***Kepikiran Ibu Hamil***
Sebagian
dari teman-teman tidak semua sudah saling kenal dan akrab. Paling hanya sekedar
tahu bahwa itu salah satu teman program dari Kaltim gitu saja. Mengingat kelas
kuliahnya berbeda. Saya lihat ada seorang teman yang sedang hamil besar dalam
satu rombongan di Bus. Kondisinya Nampak “ribet”. Nampak kerepotan berjalan
naik tangga Bus kemudian memilih-milih kursi. Melihatnya ada perasaan kasihan
dan kawatir. Maklum saya juga pernah lihat istri kalau pas lagi hamil seperti
itu semakin lama semakin ribet kondisinya. Apalagi dalam perjalanan sambil
memanggul tas. Berjalan saja sering kerepotan. Tas ranselnya kelihatan isinya
penuh, apalagi menyeret koper sendiri. Pokoknya begitu kasihan.
Rata-rata
muatan koper-koper kami berat-berat. Isi
baju untuk dipakai selama sebulan plus peralatan lain-lain. Pastinya perempuan,
jika berpergian pasti padat isi tasnya dengan alat wajah. Tapi berat koper kami
tidak lebih dari 20 kilogram, karena bagasi pesawat dibatasi maksimal hanya 20
kilogram satu orang. Sebelum pemberangkatan sudah diberikan pengarahan oleh
pemandu perjalanan yaitu beberapa orang dosen. Jadi rata-rata tidak ada yang
kelebihan muatan isi koper di bagasi.
Setelah
beberapa waktu perjalanan, sampailah tempat yang dituju, rombongan kemudian
turun dari Bus. Hujan gemercik menambah kesulitan tersendiri. Badan capek dan
kondisi bosan dalam perjalanan. Malam itu kira kira jam 21.00 waktu setempat. Bus
berhenti agak jauh dari Asrama yang
dituju, koperpun harus diseret. Dengan koper sebesar
itu, saya dengar kabar
kamarnya si Ibu hamil berada lantai
lima. Itu artinya harus
naik tangga 10 lipat, karena setiap
tingkat ditempuh dengan 2 kelokan tangga. Bisa dibayangkan kondisi badan sangat
capek. Lalu bagaimanakondisi ibu itu? Masih kepikiran terus. Kasihan.
Sambil
naik tangga Asrama masih terus kepikiran si Ibu yang hamil itu. Dalam hati saya
berkata,“Gimana dia kalau naik ketangga seperti ini? Kemudian saya membayangkan
kejadian negative terjadi padanya, ya Allah berilah perlindungan kepadanya.
Aamiin”. Doa saya waktu itu.
Sayang Asrama kita berbeda, saya belok ke kiri dan dia belok kenan menuju Asrama putri. Bahkan setelah sampai di kamar
sebelum tidur masih kepikiran. Kebetulan waktu itu belum bisa tidur karena
kondisi kamar masih berantakkan. Sejak lihat Ibu yang hamil itu, saya jadi
berfikir betapa berat seorang perempuan PNS atau karyawan kantor harus
menjalani tugas seperti ini. Mereka meninggalkan rumah, tentunya semua
urusannya diurus sendiri. Mereka - yang sudah punya anak - meninggalkan
anak-anak di rumah , tentunya juga ada rasa was-was dan kawatir terhadap
anak-anak yang ditinggal. Ah, sangat berat membayangkan ini. Dan mereka
meninggalkan suami.
Malam
itu pikiran saya kemana-mana! Kadang beralih membanyangkan umi anak-anaknya
dirumah. Alangkah beratnya jika uminya anak-anak harus seperti itu? Alangkah
kawatirnya jika anak-anak ditinggal uminya dirumah seperti itu? Pikiran saya
terus seperti itu sampai jelang pagi. Masyallah.
Mungkin
jika itu terjadi pada istri saya rasanya tidak bisa menerimanya. Alhamdulillah
istri saya tidak kerja di luar rumah. Dia selalu dirumah bersama anak-anaknya.
Sehingga saya tidak terus kawatir. Rumah saya betul-betul menjadi sekolah pokok
anak-anak saya. Dia menjadi guru perempuan tunggal dalam semua mata pelajaran.
Setiap saat memberi ilmu. Mengajari ketrampilan untuk bekal dewasa nanti.
Seperti yang sering dia baca di buku agama, bahwa tugas utama seorang istri
adalah sebagai Ibu atas anak-anaknya dan pengatur urusan dalam rumah. Dia
terapkan semua itu dalam keseharian kehidupan keluarga kami. Jika saya pulang
dia pasti menyambutnya. Selalu ada dirumah dengan menu yang sudah disiapkan
sebisanya dan saya bisa bahagia seperti ini. Alhamdulillah.
Fakta
ibu hamil itu benar-benar sangat menyentuh sekaligus memberi pelajaran berharga
bagi. Pertama, saya tersentuh dengan kerasnya perjuangan seorang ibu
yang bekerja di luar rumah. Tentunya ini dilakukan karena suatu alasan. Kedua,
semakin yakin kebenaran akan pembagian peran dalam keluarga islam bahwa peran
laki-laki bekerja diluar rumah alias di sector publik dan peran perempuan
bekerja di dalam rumah alias di sector domestik.
Suatu
ketika uminya anak-anak sedang hamil besar sampai melahirkan tapi saya tidak
bisa mendampingi. Posisi saya masih di Surabaya karena musim ujian semester.
Sangat menyesal sekali tidak mendampingi istri saat itu. Tapi apa boleh buat
semua sudah pada sektornya masing-masing. Untungnya selama saya kuliah, sang
istri tinggal bersama di rumah mertua sehingga kedua mertua bisa membantu
semuanya. Apalagi sudah lama juga tidak ketemu. Hampir tujuh tahun mereka baru
bisa ketemu setelah pulang kampung. Kehadiran istri dan anak-anak menjadi
kebahagian tersendiri bagi mereka. Subhanallah.


Komentar
Posting Komentar