*** Saat Yang Dinanti Telah Tiba ***



Saat yang dinanti telah tiba. Tanggal 5 Oktober 2013 jadwalnya berangkat ke Thailand. Berdasarkan tiket yang kami pegang, pesawat yang kami tumpangi armada Air Asia. Jadwal penerbangan dari bandara Juanda Surabaya jam 13.00 langsung  menuju ke bandara Don Mueang Bangkok. Tertulis lama penerbangan 4 jam lebih. Ini calon penerbangan pertama saya ke luar negeri. Jam sebelas siang sudah stanby di bandara, berdasarkan intruksi dosen pendamping. Sehingga kami terlalu lama duduk-duduk di bandara. Jumlah anggota rombongan kami 45 orang plus pendamping dua orang. Sebelum masuk pesawat, memang kami agak lama menunggu dan tidak menduga air akan di sita. Baru tahu kalau penerbangan Internasional melarang membawa cairan melebihi 100 gram dalam pesawat. Air mineral yang saya simpan di Tas punggung disita petugas saat melewati pintu pemerikasaan. Jelas saja penerbangan selama 4 jam itu, semua anggota rombongan merasa sama, kehausan. Teman banyak yang mengeluh. Setelah beberapa saat pesawat terbang dan penumpang duduk di kursi masing-masing kami kehausan. Syukurlah, tidak lama Kru pesawat mendorong troly jajanan melintas dalam pesawat menawarkan makanan dan minuman. Teman teman memanfaatkan kesempatan membeli beberapa minuman dan jajanan. Lumayan sedikit mengobati rasa haus dan lapar.

Jajanan dipesawat terhitung cukup mahal, menurut kantong mahasiswa. Harga nasi kotak 300 gram harganya 45 ribu dan air mineral paling kecil harganya 10 ribu. Padahal harga mineral dengan ukuran yang sama biasanya cuma 3 ribuan di Surabaya. Terpaksa semua itu dibeli juga. Beginilah jika manusia kelaparan, batin saya. Tak butuh waktu lama nasi kotak yang telah dibeli langsung disantap habis. Selesai makan masalah datang berikutnya adalah minuman yang di beli tidak cukup untuk menelan makanan ditenggorokan. Nasi terasa mengganjal, karena sebotol mineral tidak cukup kalau untuk menghabiskan nasi sekotak. Apalagi sebelum makan sudah haus duluan. Botolnya terlalu kecil. Kami merasa waktu itu, ini cerita perjalanan yang tidak menyenangkan dalam penerbangan menuju Thailand.

Selama penerbangan tidak bisa tidur. Mungkin karena saking pinginnya segera melihat Negara lain itu. Dalam hati banyak pertanyaan,”Negara lain itu seperti apa sih, Thailand itu seperti apa sih, Kampusnya apakah sama dengan Unesa atau lebih keren?”, dan seterusnya banyak sekali pertanyaan. Maklum, ini adalah sebuah kejutan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Paling tidak saat akan memutuskan ikut tes masuk pasca sarjana Unesa. Tidak pernah menduga bakal ke luar negeri. Apalagi berangkat untuk tugas kuliah. Woow Kereeen!

Disana kami akan  menempuh dua mata kuliah selama 31 hari. Dibimbing oleh dosen-dosen kampus Burapha. Komunikasi kami menggunakan bahasa Inggris. Tentu mendengarnya rasanya “Wah” sekali bukan?. Mungkin rata-rata teman juga begitu. Banyak pertanyaan di benak ini tentang seputar kegiatan kuliah, mulai dari seperti apa orang-orang atau dosen-dosen Thailand itu? Bagaimana nanti kita tinggal disana? Seperti apa bahasa Thailand itu? Seperti apa lingkungan kampus disana dan sebagainya. Banyak sekali pikiran selagi masih belum sampai disana. Benar-benar tidak ada gambaran tentang semua itu sama sekali. Apalagi kelompaok saya berangkat gelombang pertama. Nanti akan ada kelompok yang akan berangkat belakangan setelah kami kembali. Kami hanya berbekal info dari penjelasan dosen saat pembekalan.

Dibalik ribetnya perjalanan ada tersimpan harapan kebahagiaan. Toh, sebentar lagi akan sampai juga. Karena perkiraan hanya 4 jam perjalanan. Jika dipikir jernih, kesulitan yang kami alami, tidak ada yang berarti. Masih dalam taraf wajar. Cuma mungkin karena tempat dan tujuan yang akan kami tuju masih baru sama sekali. Saat yang dinanti pun sudah tiba. Pesawat sudah kelihatan akan mendarat. Teman yang tadinya tidur telah terbangun. Perjalanan yang benar-benar beda dari biasanya. Biasanya perjalanan naik pesawat tidak sampai tegang seperti itu. Penerbangan kala itu adalah kenyataan riil, dan kami akan kuliah di luar negeri juga riil. Dalam hati membatin,”ini akan menjadi cerita yang menarik”, begitulah kira-kira.  

Upaya selama ini merasa ada hasil dan manfaatnya. Pembuatan paspor dan ikut pembekalan bahasa Inggris satu semester di luar jam kuliah merupakan perjuangan tersendiri, semuanya tidak dikira sebelumnya. Hanya menjali dan menjalani proses saja. Perasaan berat pada kami rasakan wajar, karena jurusan kami adalah eksakta semua, rata-rata basis kemampuan bahasa Inggris sangat kurang. Hal ini mungkin disadari oleh pihak kampus, sehingga sengaja disediakan dosen khusus untuk membekali kami percakapan bahasa Inggris. Bahasa yang nantinya akan menjadi alat komunikasi satu-satunya selain mimik. Walau hasilnya masih jauh dari kata baik dan lancar tetapi paling tidak sudah bisa nanangkap dikit dikit maksud lawan bicara. Yes no-yes no. gitulah.

Dua bulan sebelum pemberangkatan sudah keluar pengumuman agar segera membuat paspor. Terekam jejak di Fb saat itu, tepatnya tanggal 30 Juli 2013 pada dinding status Fb teman pengumuman pembuatan paspor kala itu. Kampus menyediakan dana sendiri untuk pembuatannya sebesar empat ratus ribu per orang. Hal ini juga pengalaman tersendiri, seumur-umur belum pernah buat paspor karena belum pernah trip keluar negeri sebelumnya. Sekitar satu bulan jelang keberangkatan banyak waktu luang untuk melengkapi bekal perjalanan. Saya mengurus paspor di kantor Imigrasi tingkat II kota Madiun. Tidak butuh waktu lama, cuma tiga hari kerja paspor sudah jadi. Sebagian teman-teman memanfaatkan kesempatan mengurus paspor untuk sekalian pulang kampung. Bahkan saya dan sebagian teman-teman masih sempat keliling ke Gunung Bromo, kota Jember, Kampus almamater saya UNEJ dan mengunjungi pantai Watu Ulo dan Papuma. Sebuah pantai yang sangat Indah dan menarik. Belakangan setelah sampai di Thailand dan sempat jalan-jalan di pantai Bangsaen, pantai Papuma yang saya lihat di Jember menjadi pembanding indahnya pantai di Bangsaen dekat kampus.

Menanti tanggal pemberangkatan itu memang sering membuat perasaan tidak menentu. Kadang timbul rasa kawatir, berfikir yang bukan-bukan dan sebagainya. Semua teman berharap pada tanggalnya nanti diberikan kesehatan yang baik, kondisi yang memungkinkan berpergian. Semua itu mungkin karena moment ke luar negeri adalah moment istimewa, dan tidak terbayang sebelumnya. Wajar tidak kalo sulit tidur, hehehe. Apalagi setelah jelas kapan berangkatnya, semakin dakdiduk jantung ini. Seperti mau ke rumah calon mertua, gitu. 

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BURAPHA UNIVERSITY

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI