Ada Apa di Hari Jumat


Jumat, sebelas Oktober 2013, merupakan hari jum’at perdana mengawali kami tinggal di Thailand. Agenda utama bagi kami yang muslim adalah shalat jum’at.  “Hari ini hari jumat loh!”.Pernyataan seorang teman. Kemudian disusul oleh yang lain,”Lalu dimana kita akan shalat jumat?” Tanya seorang teman lain pagi itu. Obrolan itu berlangsung usai shalat subuh berjamaah di kamar. Kami satu kamar baru menyadari, kalau hari itu hari jum’at dan kita harus melaksanakan shalat jumat berjamaah di masjid. Kami saling tanya satu sama lain hampir secara bersamaan dan spontan. Berharap ada yang sudah tahu infomasi tempat shalat jumat, dimana diselenggarakan di tempat yang terdekat. Akan tetapi tidak satupun ada yang tahu, diamana ada masjid?. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan kita semua. Bisa dimaklumi kami baru empat hari di sana dan belum mengenal lingkungan secara utuh. Tak lama setelah datang salah seorang teman ke kamar kami, ketemulah jawaban. Kita akan melaksanakan shalat jumat di sekretariat Muslim Club. Terjawablah soal kami.

Sekretariat Muslim Club, lokasinya tepat di seberang asrama jarak 30 meter. Sebuah ruangan yang hanya cukup sekitar 50-an jamaah. Tersedia kran bisa untuk wudhu di lantai dua. Jadi harus turun satu tangga untuk mengambil air wudhu. Disana tersedia sajadah sebagai alas untuk bersujud dalam shalat. Jumlahnya terbatas, tidak sampai 20 lembar. Terdapat rak kecil, disana tersedia beberapa alquran dan buku himpunan teks khotbah jumat setahun. Sempat penasaran dengan terlihatnya buku himpunan khotbah jumat setahun itu. Saya berniat ambil dan baca masih belum berani, nunggu bisa mengali keadaan lebih komplit. Kok ada buku berbahasa Indonesia di sini? Tanyaku dalam hati. Setelah telisik demi telisik, eh... ternyata memang milik mahasiswa asal Indonesia yang pernah kuliah di sini. Woow! berarti bukan kami saja yang pernah masuk di ruangan ini?, tanya saya dalam hati. Mulai terbuka info baru mulai hari jumat ini. Info setelah berinteraksi dengan muslim yang lain.

Setelah semuanya selesai wudhu, dan duduk rapi pada shaf-shaf masing-masing, prosesi shalat segera dimulai. Semua proses pelaksanaan mengikuti arahan aktivis Muslim Club. Pak Sugi didaulat menjadi juru adzan. Karena pak Sugi didaulat dengan sistem tembak langsung, pak Sugi langsung menganggukan kepala, pertanda bersedia. Mungkin pak Sugi tidak ada pilihan lain. Pak Sugi pun akhirnya berdiri untuk adzan. Dengan posisi siap adzan, pak Sugi langsung mengumandangkan adzan dengan suara emasnya. Pak Sugi mampu menyelesaikan tuntas, menyelesaikan tugasnya. Walaupun tidak bisa di tutupi suara pak Sugi sedikit gemetar dan tampak grogi. Saya yang kebetulan di belakang pak sugi saat adzan bisa menyaksikan kakinya bergetar. Sukses pak Sugi, perjuanganmu dalam membela sksistensi kami semua, batin saya. Kemudian jumat berikutnya pak Sugi sudah otomatis menjadi juru adzan yang kami handalkan. Sayapun merasa tenang juga, hehehe. Saya ucapkan dalam hati,”Selamat pak Sugi. Semoga menjadi amal baik pak Sugi dan mendapat balasan yang besar dari Allah swt. Aamiin”.

Petugas sebagai Imam dan khotib dari teman Burapha. Baju yang dikenakan masih baju seragam kuliah, putih-hitam. Khotbah disampaikan dengan bahasa Thailand. Kami tidak bisa memahami ulasan khotbah samasekali. Penyampaian khotbah dengan nada tinggi dan berapi-api. Menampilkan semangat yang tinggi mengikuti sunnah. Mungkin kultur yang berkembang disana dalam berkhotbah seperti itu. Sebagaimana yang saya fahami cara rasul berkhobah jumat dengan gaya berapi-api dalam penyampaian. Laksana mengkomando pasukan yang akan berangkat berperang.  Jadi sangat cocok sekali bagi saya penampilan yang diperagakan oleh khotib aktivis muslim club saat itu.

Seperti rukun khotnah yang sudah dimaklumi oleh umum, khotbah diawali salam, dilanjutkan dengan memuji kebesaran Allah yang maha esa, membacakan sholawat dan salam kepada baginda rasulullah sholallah alahi wassalam, dan membacakan pesan takwa dengan membaca satu ayat al qur’an, barulah menyampaikan pesa-pesan hikmah. Memasuki pesan hikmah disampaikan dengan bahasa thai yang keras dan lantang. Kami hanya bisa membaca spirit kuat yang tersirat dalam khotbah sang khotib. Walaupun kami tidak bisa memahami maksudnya.

Sebelum pembacaan pesan hikmah, semua prolok khutbah sudah familiar di telinga kami, karena menggunakan bahasa Arab. Kalimatnyapun biasa kami dengar dan kami faham artinya. Karena kami umat islam memiliki aturan yang sama dalam menjalankan rangkaian shalat jumat. Akan tetapi memasuki isi khobah, sang khotib menyampaikan dengan bahasa Thai membuat kami tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud dalam isi pesan khotbahnya. Sudah tentu memasuki penjelasan isi permasalahan yang diangkat dalam khotbah tidak bisa kami fahami sama sekali. Semuanya menggunakan bahasa asli Thailand. Otomatis kami hanya bisa manggut-manggut saja. Untuk menunjukkan perhatian dan respon pesan yang disampaikan. Sesekali ada ungkapan yang kami sudah familiar mendengarnya, yaitu ungkapan,” qalallahu aza wazala” dan seterusnya membaca ayat alqur’an. Kemudian sedikit kembali familiar dalam telinga kami, uncapan sang khotib disaat menyebut nama ”Muhammad saw” kemudian membaca hadist. Namun setelah itu kembali berbahasa asli Thailand, kamipun tidak memahami lagi apa maknanya? Khotbah yang telah disampaikan oleh sang khotib sudah sah karena telah memenuhi syarat dan rukun khotbah.

Begitulah bahasa Arab, bahasa resmi umat islam adalah bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi bahasa pemersatu bagi umat islam. Bahasa Arab telah menyatukan jiwa dan perasaan umat islam. Dalam beribadah shalat syarat dan rukun disampaikan dengan bahasa Arab menjadikan kami merasa ada ikatan persaudaraan se-iman. Tanpa penguasaan yang baik dan benar terhadap bahasa Arab, seseorang tidak bisa memahami dan menafsirkan al quran.

Seluruh mahasiswa muslim laki-laki dari kami mengikuti pelaksanaan shalat jumat. Shalat jumat diikuti oleh sekitar 40 orang jamaah. Ruangan muslim club hapir penuh dan shaf yang merapat. Biarpun kami tidak bisa menangkap seruan sang khotib secara penuh saat penyampaian khotbah. Namun kami sudah merasa telah melaksanakan shalat jumat hari itu sah. Hal itu telah menentramkan kami. Seperti dalam pelaksanaan ibadah yang yang lain, umat islam usai beribadah jiwa dan hatinya akan tentram. Karena ibadah jumat menjadi kewajiban fardzu’ain bagi setiap muslim laki-laki. Umat islam yang beriman akan merasa berdosa jika tidak menunaikan kewajiban, sehingga akan berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuannya untuk melaksanakannya. Inilah hari Jum’at yang penuh barakah, jum’at mubarok.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BURAPHA UNIVERSITY

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI