Gelombang Dua
Saya masuk daftar
gelombang pertama berangkat ke Thailand. Dalam rangka menempuh dua mata kuliah
wajib, hipermedia dan Curiculum. Berangkat tanggal 5 Oktober dari bandara
Surabaya. Rencana kembali ke Surabaya tanggal 3 November 2013. Jadi sebulan
penuh jatah kuliah di Thailand. Tepatnya kuliah di kampus Burapha University. Nah,
cerita tentang gelombang ke II berawal saat kami menjelang akan kembali ke
Surabaya. Kala itu jatah kuliah sudah hampir selesai dan siap kembali ke kampus
Surabaya lagi. Terbersitlah dalam pikiran mengarah ke teman-teman yang masih
menunggu keberangkatan pada gelombang ke II. Pada diri saya, ada rasa ingin
berbagi info, bercerita banyak hal dan sebagainya tentang kuliah di sana. Siapa
tahu bisa membantu kesulitan dalam mempersiapkan keberangkatan mereka.
Pesan-pesanpun saya tulis di dinding facebook, agar bisa dibaca oleh semuanya. Saya
faham betul, bahwa mereka pasti butuh info dari kami yang sudah berangkat
duluan.
Boleh kaan? yang
sudah lebih dulu pergi kesana, memberi pesan ke mereka yang belum pergi ke sana?
Ibarat yang senior memberi pesan kepada yang yunior. Memberi pesan ini-itu,
info ini-itu dan arahan ini-itu kepada yuniornya. Apalagi sang yunior akan
menempuh kegiatan yang sama seperti kegiatan yang telah dilewati oleh senior.
Itu rasanya pas banget, timingnya pas, jika pesan disampaikan. Disamping itu, memberi pesan kepada orang yang
membutuhkan, adalah suatu tindakan yang mulia. Apalagi juga bisa memberi
manfaat bagi yang orang lain. Menceritakan gambaran selama di Thailand akan menjadi
info penting bagi meraka. Bisa jadi memudahkan bagi teman yang akan berangkat
pada gelombang II. Teman jatah berangkat gelobang II bisa menyiapkan perbekalan
apa yang akan di persiapkan untuk dibawa, dst.
Info kami, kuliah
di Thailand full, pagi jam 08.00 sampai sore jam 17.00 waktu stempat. Selama
kuliah ada 3 kali istirahat. Disediakan makan siang dan snack, tiapkali
istirahat. Jika ingin shalat duhur atau ashar, kita bisa menjalankan shalat di
mushala perpustakaan lantai 8. Mencari makan yang halal harus sedikit jalan jauh
dari Asrama menuju warung mama Nina. Dengan
info semacam ini peserta gelombang ke II bisa mempunyai bekal info yang komplit
sejak dini sebelum berangkat. Sehingga bisa menambah kemudahan setelah tiba
disana.
Untuk berbagi
info, saya sekedar menggambarkan apa yang bakal dialami oleh teman-teman
gelombang II, setelah tiba disana. Rombongan pertama banyak pengalamannya yang
bisa ditulis dalam dinding sebagai info, setelah mengalaminya sendiri tinggal di
Thailand. Logikanya yang sudah pergi, sudah mengetahui ilmunya dan memiliki wawasannya.
Sedangkan yang belum pergi ke Thailand, belum dapat ilmunya. Dengan menerima
info terlebih dulu, sedikit banyak sudah tahu harus menyiapkan apa untuk menghadapi
kuliah di Thailand. Ya kaan?
Gambaran saat
akan pulang dan bagaimana menyikapi masalahnya. Pesan saya bagi teman-teman gelombang ke II, catat ya. Biasanya minggu terakhir menjelang kepulangan (selasa,
rabu dan kamis) menyita banyak energi fisik
dan pikiran. Kenapa memang? satu sisi tugas harus dipaksa selesai -khusunya Ms
Pro- dan sisi lain hasrat
pingin pulang sudah memuncak di ubun-ubun. Kalo udah gini
berusahalah pandai-pandailah mengelola waktu dan pikiran. Jangan
sampai hasrat pingin pulang menguasai pikiran kita sehingga bertindak yg aneh-aneh dan tidak produktif. Bisa-bisa malah amburadul semuanya. Sekedar tawaran tips berdasarkan
pengalaman mengatasi keadaan demikian;
Pertama. Konsentrasi
mengerjakan tugas dulu dan persiapkan
presentasi Ms Pro sebaik mungkin. Kenapa memang? Bila
presentasi kalian jelek dan kurang persiapan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya lagi. So
kalian pulang akan menyisakan ketidakpuasan menyelesaikan tugas akhir. Hal demikian sudah naluri tiap orang, ingin berbuat yg terbaik.
......kalaupun terpaksa tdk tidur itu udah biasa, yg penting tidak sampai sakit. bisa mengukur diri.
Kedua. Bila sudah
selesai semua tugas, alias sudah pulang kuliah terakhir,
mulailah berfikir tentang
berkemas-kemas yang paling efektif. Tata semua barang yg memang akan dibawa
pulang termasuk oleh-oleh yg udah dibeli. buat cek list, bila perlu. Sisakan
beberapa baju dan peralatan yang masih kita gunakan selama menanti waktu pulang
secukupnya. Lengkapi oleh-oleh yg masih
kurang bila masih memungkinkan. Ingat-ingat pesanan
teman di Indonesia mungkin ada yang klewat. Berusahalah semuanya tidak ada yg dikecewakan. Siapa tahu
kalian sudah
membuat janji. Soal janji, memang kadang kita begitu gampang membuat
janji. Ketika waktunya tiba baru terasa
beratnya menepatinya. Oleh karena janjinya udah
terlanjur, ya harus
diupayakan sebisa mungkin.
Mulailah mengoreksi kembali
perjalanan yg sudah
kita rencanakan pasca turun dari pesawat, alias
bila sudah sampai di Bandara Juanda.
Jangan sampai kita salah ambil keputusan -apakah akan pulang ke rumah, ataukah akan
ke kampus (kos) dulu. Biasanya hanya dua inilah yg menjadi pikiran. Semua ini
kalian sendiri yg tahu persis mana yang
tepat.
Sekedar tawaran dari saya, pilih ke kampus
dululah, karena jadwal kampus tidak bisa ditawar bagi kalian -ini ndak tendensius loh ya-.
kembalinya ke kalian sendiri. Terus
selanjtnya ndak tahu lagi apa, intinya silahkan pandai-pandai mengelola waktu.
Selesaikan semua agendakan dengan sebaiknya. Ya
@Dir indarmaji?
Pak Dir, adalah
salah seorang teman, yang akan berangkat pada gelombang ke II. Nama panjangnya
adalah Dir Indarmaji. Saya dekat dengan dia, pernah saya satu kos-an di jalan
ketintang madya 6. Selama saya masih di Thailand, dia sering minta untuk
menggambarkan kegiatan selama kuliah di Thailand. Sehingga saya mencoba
menggambarkan sedikit demi sedikit secara berkala. Tiapkali ada yang perlu
disampaikan, saya akan muat didinding Fb saya, atau saya inbox langsung. Dengan
harapan dia bisa membaca langsung dan bisa bertanya jika ada yang perlu
ditanyakan.
Teman yang lain juga pernah bertanya, kang Dayat, apa saja yang diperlukan selama disana yang bisa di bawa dari Indonesia? Jawab saya,”bawa rice cooker, lauk yang sudah instan yang bertahan sebulan, baju secukupnya saja”. Biarpun di asrama dilarang memasak sendiri, namun banyak yang masak juga. Karena larangan masak tidak disertai dengan pemeriksaan. Bahkan Mr O tidak pernah mendatangi kamar-kamar kami. Bahkan kami sering beli beras 5 kilgram dan kami panggul secara terbuka masuk asrama tidak ada yang menegurnya. Mungkin mereka, yakni Mr O dan pak Satpam penjaga pintu gerbang hanya tegas kepada mahasiswa lokal namun tidak tegas pada mahasiswa “titipan” seperti kami. Atau mungkin mereka menyadari karena kami sebagai seorang muslim, yang sulit mencari masakan halal.
Semua itu tentu tidak diketahui oleh teman yang akan berangkat pada gelombang ke II. Kecuali kami dengan kesadaran sendiri dan kecermatan membantu mengjabarkan tanpa diminta sekalipun. Agar teman tidak mengalami kesulitan sebagaimana kesulitan yang telah kami temui lebih dulu, dimana kami saat berangkat tidak ada referensi apapun tentang keadaan hidup di lingkungan kampus. Mayoritas penduduk lingkungan kampus baru kami sadari setelah kami datang disana. sehingga kesulitan tersendiri bagi kami yang kena giliran gelombang pertama. Paling tidak kesulitan mencari makan. []
Komentar
Posting Komentar