Seminar Mendadak
Ada seminar spesial, kenapa ada seminar spesial? Bukankah kehidupan mahasiswa erat dengan seminar? Lalu apa spesialnya? Nanti dulu, saya cerita terlebih dulu tentang seminar, agar frekuensi kita seputar seminar sama walau dikit. Okey sob?
Bagi kalangan
akademisi, seminar adalah hal yang sudah biasa, namun penting. Kata seminar
sudah seperti menu nasi dan sayur, yang mereka makan sehari-hari. Seminar sudah
meliputi hari-harinya. Apa sih seminar itu? Menurut literasi saya, seminar
adalah penyampaian ide dan gagasan kepada orang lain dalam sebuah forum.
Pemateri berharap ada tanggapan dari peserta seminar. Apakah tanggapan masukan,
pertanyaan, atau kritikan. Umumnya seminar diikuti oleh orang yang terdidik dan
memiliki kopetensi di bidang yang sejalan dengan apa yang diseminarkan. Atau
paling tidak, oleh orang yang sedang memfokuskan perhatian dalam masalah yang
dijadikan topik dalam seminar.
Seminar tempatnya
di ruang yang menampung banyak orang, sebagai tempat berkumpul peserta. Ada
sesi tanya jawab, kemudian ada kesimpulan yang disampaikan dari seorang
pembahas. Dalam pelaksaan diskusi terdapat moderator sebagai pemandu
berjalannya sesi tanya-jawab. Pembahasannya ilmiah, berdasarkan sesuatu yang
aktual. Biasanya mengacu pada sebuah makalah sebagai acuan. Spesifiknya, berbentuk
forum yang terdiri dari pemateri, moderator, notulen dan audiens. Kemudian
menghasilkan kesimpulan.
Bagi mahasiswa,
kegiatan seminar diselenggarakan untuk menguji proposal skripsi bagi jenjang S1
atau tesis bagi jenjang pasca sarjana (S2) dan desertasi bagi mahasiswa yang
mengambil doktor (S3). Jenis seminar ada beberapa macam, diantaranya adalah
seminar motivasi, seminar pendidikan dan seminar inspirasi. Masing masing
mempunyai ciri dan karakter sendiri. Bagi mahasiswa, tiap kali ada kakak
angkatan yang telah selesai menyusun proposal pasti akan meminta bantuan teman
seangkatan atau adik angkatan untuk mendampingi nya dalam seminar. Membantu
mengurus keperluan seminar, seperti menyediakan konsumsi bagi pembicara,
membawakan bendel proposal dan lain sebagainya. Selebihnya teman lain menjadi
penggembira atau penyemangat bagi kakak tingkat yang lagi seminar.
Pada hari
senin, 28 Oktober 2013, jadwal perkuliahan off. Entah ada apa waktu itu, saya
lupa. Mungkin ada hari libur menurut kalender Thailand. Ketua jurusan prof.
Montree, melalui salah satu teman, mengundang kami agar bersedia hadir
mengikuti seminar pendidikan. Tempatnya di salah-satu ruang kampus fakultas
pendidikan. Ruang yang tidak biasa kami pakai kuliah. Kami pandu oleh salah
satu bagian administrasi kampus yang sudah biasa mengurusi administrasi kami
selama kuliah disana. asli orang Thailand, bekerja di bagian administrasi
kampul. Ia Mrs ...., sekaligus sebagai juru potret kami dalam seminar itu. Acara
belum di mulai, kami sudah di ambil fotonya lebih dulu. Mungkin dia kawatir
kami akan kabur duluan sebelum dapat dokumentasi. Yach begitulah!
Kami diarahkan
masuk ke ruang seminar di lantai tingkat 8, disana sudah ada lebih dulu
beberapa peserta yang lain dan kami tidak ada yang mengenalnya. Mereka berkulit
bule, belakangan setelah seminar dimulai dan beliau tanya ke salah satu
pemateri, baru kami tahu, si Bule itu dari Amerika atau praktisi pendidikan
dari Amerika. Sedangkan yang lainya ada yang dari eropa dan sebagian besar
tampak dari Asia.
Perkuliahan yang semestinya libur, tapi kami harus hadir. Sehingga Cuma sedikit dari
kami yang hadir. Padahal saya sendiri sudah berencana destinasi ke cat tu cak
mencari oleh-oleh pesanan teman. Tragis! Hari itu seperti berubah
menjadi semacam shock terapy bagi kami
yang hadir. Kami lihat tidak ada satupun dosen yang mendampingi kami. Dosen
yang sudah biasa kami kenal dan sudah biasa familiar logat bahasa Inggrisnya.
Berjejer didepan pemateri yang kami tidak kenal kecuali kepala jurusan Prof.
Montree. Wah gawat, dalam hati. Menduga-duga bagaimana kami nanti kalo ditanya
atau di ajak diskusi, hati ini berdebar-debar terus tanpa henti. Mau kabur sudah
terlanjur masuk ruangan, mau kembali ke asrama kalo tak bareng teman yang lain
pasti kurang enak. Begitu pikiran berkecamuk takut.
Empat pemateri
mulai dikenalkan oleh moderator, dengan bahasa Inggris,mereka yaitu;
Assoc.
Prof. Montree Yamkasikom (Burapha), Assoc. Prof. Dr. Prapart Brudhiprabha
(Burapha), Assoc. Prof. Dr. Utai Piromiruen, Prof. Dr. Ambigapathy Pandian
(malaysia) dan ada empat bagian tehnisi. Semuanya duduk di depan forum. Dibelakang meja panjang,
dengan papan nama masing-masing, sebagai pengenal. Mereka secara bergantian
menyampaikan materi dan membuka tanya jawab. Adapun tehnisi dari mereka bertugas
jepat-jepret kamera. Ada yang bertugas sebagai pembuka
pembicaraan dan ada yang mengarahkan tempat duduk pengunjung, dan sebagainya.
Presentasi diawali oleh Dr.
Ambigapathy Pandian (malaysia), Ia mempresentasikan tentang “Menggunakan TIK
untuk Meningkatkan Pembelajaran dan Pemahaman Guru dan siswa
dari Laguages and Cultures of the ASEAN Comunity. Penyajiannya sangat menarik
karena dia terlihat bersemangat dan dengan
bahasa Inggris yang jelas
sehingga kami tidak mengantuk. Sepertinya
frekuensi kami sejalan. Setelah beliau presentasi, kita bisa berdiskusi tentang
sesuatu. Memasuki giliran pemateri selanjutnya,
giliran Pak Assoc. Prof. Dr. Prapart Brudhiprabha (Burapha),
pemateri yang kelihatan umurnya sudah yang paling tua, kita semua mengantuk dan
malas karena kita tidak mengerti sama sekali tentang
presentasinya, PPT-nya menggunakan bahasa Thai jadi
kita tidak bisa membacanya atau menerjemahkanya. Apa mungkin kami dianggap mahasiswa jenius, gitu? Jadi
Presentasinya terasa lama dan menjenuhkan.
Mungkin sudah tabiat kami di kelas selalu ada yang ramai dan berisik ngerumpi. Bule-bule
yang duduk paling depan merasa
terganggu, dan kelihatan sebel, sering menoleh kebelakang. Saya yang
tepat dibelakangnya jadi merasa tidak enak. Padahal bukan saya yang berisik. Seperti biasa saya mengambil posisi di baris ke dua, tepat dibelakang mister
bule itu. Agak seidkit jadi perhatian postur
badan si bule, super tinggi dan berbadan lebar. Seperti memenuhi ruangan.
Kira-kira duakali lipat dibanding badan teman-teman. Trus badan bule, minta ampun baunya, ndak
cuocok blass dia punya parfum dengan kita-kita.
Seminar hari
itu sangat spesial, karena teman-teman tidak begitu berisik di kelas, tidak
seperti biasanya, mereka waktu itu bisa anteng dan serius. Saya jadi berfikir
sambil menebak, mungkin karena ada tiga profesor yang baru didepan mereka lihat?
ataukah memang mereka anteng betulan ya sob? Nah, memang biasanya awal belum
kenal kita-kita bisa anteng kok, selanjutnya situasional, gitu! Tapi saya tetap
berharap, semoga teman-teman semuanya serius dan nanti ilmunya bisa ditularkan ke
yang lain ya? Terus terang kalau saya blass ndak nangkap kontenya, sob!
Ada pelajaran berharga setelah
mendengarkan pemateri presentasi. Yaitu kami mulai merasakan, alangkah pentingnya bisa bahasa Inggris lancar,
Sob. Bisa menangkap kosa kata dengan
jelas, mengucapkan denga jelas, dan memahami artinya dengan tepat tanpa
bufering, penting sekali. Itu yang saya rasakan saat itu. Akhirnya, entah apa
yang diomongin oleh para pembicara yang kakek-kakek it, saya tidak tahu.
Pembicara didepan berapi-api, kami dibelakang manggut-manggut. Benarkah
teman-teman bisa koneks dengan apa yang maksud oleh kakek yang bicara di depan?
Perasaan, kemarin pada ngeluh pusing usai kuliah dengan mister Somsit, yang
bahasanya mirip si kakek. Ah, memang,
teman-teman ini bisa-bisanya manggut-manggut kepalanya. Emangnya apa yang
disampaikan Mr Prapart Brudhiprabha dia bisa
tangkap? Emangnya apa yang disampaikan Mr Montree, merek bisa nyambung?
Luarbiasa akting mendadak pagi ini teman-teman. Para pembicara membahas soal
goal curiculum, tentang efectif curiculum dan lain sebagainya. Kami hanya tahu
judulnya saja. Hehehe!

Komentar
Posting Komentar