Pesan Sang Ayah
Wahyudi kecil tinggal di sebuah desa terpencil. Untuk pergi ke kota membutuhkan waktu setengah jam perjalanan menggunakan sepeda “Ontel”. Jalanan desa masih tanah berumput. Jika hujan akan sulit di lewati. Listrik baru ada setelah umur SMP. Sarana desa masih sangat minim.
Ia hidup bersama kedua orang tuanya. Kampungnya bernama desa Duyung Kecamatan Takeran. Daerah paling pinggir bagian timur kabupaten Magetan.
Rumahnya dekat dengan sungai
Bengawan Madiun. Sehari-hari pekerjaan Ayahnya mencari buah-buahan, untuk
dijual Kembali di kota. Ekonomi keluarganya terkategori menengah ke bawah. Kendaraan
yang dimiliki hanyalah sepeda “ontel”.
Seperti umumnya anak-anak desa lainnya. Sehari-hari Ia hidup bersama alam pedesaan. Udaranya masih segar, tidak banyak polusi asab kendaraan bermotor.
Disana-sini banyak
pepohan yang subur dan rindang. Jauh dari suara bising kendaraan kota. Blantaran
pasir pinggir sungai menjadi tempat favorit. Untuk bermain sepak bola plastik dan
kejar-kejaran dikala sore. Badannya selalu sehat hampir-hampir tidak pernah
sakit.
Maklum
kondisi pedesaan. Jumlah penduduk tidak banyak. Sarana umum masih sangat
terbatas. Ia menamatkan sekolah dasar di SD Impres di desanya sendiri. Jenjang SMP
diselesaikan di kecamatan.
Ayahnya sangat penyanyang. Setiap jelang tidur malam, sang Ayah duduk di sampingnya, sambil bercerita untuk menghantarkan Ia tidur. Seringkali masa muda Ayahnya menjadi bahan ceritanya.
Semasa kecil ayah tinggal bersama seorang ibu angkat. Dia pingin sekolah, tapi tidak bisa karena terkendala biaya. Padahal nilai NEM-nya bagus dan bisa masuk ke negeri. Tapi karena keadaan keluarga miskin ayah kecil tidak bisa sekolah. Dia hanya di rumah membantu ibu angkatnya.
Setelah ceritanya selesai, Wahyudi kecil baru bisa tidur. Perhatian
dari sang Ayah seperti itu rutin sejak masih Ia SD hingga masuk kelas 7 SMP.
Setelah
kelas 8 SMP, sang Ayah tidak lagi mendampingi jelang tidurnya. Wahyudi sudah
bisa tidur sendiri di kamar. Awalnya terasa sulit, tapi lama-lama terbiasa.
Tampaknya
kisah-kisah cerita dari sang Ayah sangat melekat kuat dalam benaknya. Semua isi
cerita masa kecil diingatnya. Karena satu cerita, sering diulang-ulang. Namun, selama
ini Ia belum mampu memetik pesan dari cerita sang Ayah.
Setelah
beranjak dewasa, barulah Ia mulai mampu memetik pesan dari cerita sang Ayah. Saat
itu Ia telah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), kemudian saatnya masuk ke
jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Umumnya remaja di kampungnya, setelah
tamat SMP akan melanjutkan ke SLTA di Kota.
Wahyudi
sempat patah semangat, rasanya malas dan malu melanjutkan sekolah. Penyebabnya adalah
jarak yang cukup jauh untuk pergi ke kota. Apalagi kendaraan yang dipakai hanya
sepeda “ontel”. Sementara teman yang lain membawa sepeda motor.
Ia
tidak bisa menerima keadaan. Beberapa hari pasca kelulusan, Ia habiskan waktu hanya
untuk merenung. Pikirannya tidak menentu. Namun, Semua masalah itu Ia simpan
sendiri. Tidak sekalipun Ia ungkapkan kepada keluarganya.
Waktu
telah beranjak malam. Jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Dalam renungannya, Ia
larut masa-masa kecil dulu. Ingat perlakuan sang Ayahnya yang penyayang. Saat
itulah, Ia mulai ingat beberapa cerita sang Ayah dalam memorinya. Ia
betul-betul larut cerita sang Ayah. Iapun mulai lupa masalah yang dialaminya.
Hatinya yang gundah telah sirna. Yang ada tinggalah memori Bahagia. Iapun akhirnya
tertidur dalam keadaan tersenyum sampai pagi.
Bangun
pagi, Ia tiba-tiba langsung berdiri semangat. Dalam tidurnya, Ia serasa
bermimpi dapat pesan-pesan dari sang Ayah. “Kamu adalah anak laki-laki kebanggaan
Ayah. Jika kamu tidak mau hidup sengsara terus menerus, Kamu harus berjuang keras
dan tidak malu”. Satu persatu pesan-pesan sang Ayah melintas di benaknya. Pesan
itu telah melecut tekatnya.
Semuanya
pesan Ayahnya selama ini, mulai melahirkan energi positif dalam dirinya.
Keadaan berganti menjadi sangat mudah. Iapun segera menyiapkan berkas untuk
pendaftaran ke SLTA. Kemudian berangkat ke kota menggunakan sepeda “Ontel”nya
dengan penuh semangat.
Setelah
“kejadian” itu, dia memiliki keinginan kuat untuk terus sekolah, bahkan pingin sampai kuliah.
Wahyudi
kini telah menjadi guru IPA di SMP Negeri 4 kota Bontang, bahkan telah tamat
jenjang Pasca Sarjana Pendidikan Sains dari Universitas Negeri Surabaya. Ia mempunyai seorang Istri, dua anak
laki-laki dan dua anak perempuan. Semuanya sehat dan pintar. Alhamdulillah.
Komentar
Posting Komentar