Melepas Ikan
Setiap negeri mempunyai tradisi atau budaya khas. Di negeri saya, di
Madiun, setiapkali lahir seorang bayi, potongan talipusar bayi dikubur di halaman rumah dan di malam
hari dikasih lampu penerangan. Budaya ini sudah turun temurun sejak nenek
moyang. Saya yang masih muda tidak memahami apa maksud tradisi yang demikian
itu. Juga dulu setiap rumah dikampung selalu menyediakan tempat minuman air
untuk menyediakan siapa saja yang haus dan hendak meminumnya. Namun sayang
tradisi kini sudah tidak ada lagi tergerus dengan budaya lain jaman sekarang. Tidak
luput juga di negeri Thailand, disana ada tradisi melepas ikan di perairan.
Ikan dilepas di kolam, parit, sungai atau danau. Tradisi itu dilakukan setelah mereka
marasa kebahagiaan. Bahagia karena sukses usahanya, selesai menikah atau yang
lainya. Atau pada saat tertentu yang menunjukkan mereka bersyukur. Sehingga wajar,
banyak dijumpai ikan di berbagai tempat yang berair tidak ada yang berniat
mengambilnya. Parit, sungai dan tempat-tempat berair banyak dengan ikan. Bila
kita menjumpai sebuah kolam dimana saja di lingkungan kampus, pasti akan kita
jumpai banyak ikan didalamnya.
Di seberang jalan, depan asrama
mahasiswa putri (Dormitori Thaotong), terbentang luas sebuah danau yang airnya terjaga bersih. Disekeliling
danau terdapat jalan yang mengitarinya, teduh dan sejuk. Hewan air hidup dengan
sehat dan aktif. Ada beberapa jenis hewan air disana, ada kura-kura, ikan
patin, ikan gabus dan yang lainya. Mahasiswa banyak yang datang kesana, untuk
sekedar menikmati atraksi hewan-hewan air yang lucu-lucu di danau itu. Sekali
kita melempar potongan roti ke tengah danau, maka ikan saling berebutan. Bahkan
ada ikan yang sampai meloncat ke rumput untuk mendekat pengunjung. Seakan ikan
itu meminta makan pada pengunjung langsung. Roti makanan ikan itu bisa kita
beli pada penjual yang mangkal di sekitaran danau. Mereka sengaja menjual roti
khusus untuk makanan ikan. Agar pengunjung bisa melihat atraksi ikan saat
dikasih makan roti. Ikan-ikan itu dijaga dengan baik. Jadi sebagian masyarakat Thailand
menganganggap ikan adalah hewan yang disakralkan, tapi ikan juga hewan yang
disenanginya.
Bukan hanya ikan, masyarakat Thailand juga menyukai hewan
air lainnya. Dalam danau terdapat juga kura-kura, ia akan naik ke daratan
mendekat pembawa roti. Atraksi ikan dan kura-kura itu yang membuat histeris
pengunjung danau. Karena saat duduk santai tidak jarang kura-kura tiba-tiba
akan mendekati kita. Biarpun ikan mudah ditangkap atau diambil, tidak ada
masyarakat kampus yang mengganggu atau mengambilnya. Karena sebagian orang
disana mempunyai tradisi tidak memakan ikan. Mungkin itu termasuk bagian dari
budaya penganut Budha yang taat.
Selama disana, sering kali
saya melihat beberapa pasangan laki dan perempuan melakukan prosesi lepas ikan
di kolam. Sebelumnya melepas ikan mereka seperti melakukan ritual tertentu,
saya memperhatikan dari kejauhan, mereka berdiri hening dan disertai mulut
komat-kamit. Entah apa yang dibacakan mereka, yang jelas mereka melakukan
ritual tertentu sesuai dengan agama mereka. Saya hanya memperhatikan dari kejauahan.
Budaya lepas ikan sengaja di lestarikan oleh pemerintah
Thailand. Di sungai Chao Praya kota Bangkok oleh pemerintah kota sengaja
menjadi tempat melepaskan ikan dan hewan air. Hewan air disungai itu dipelihara
dan sengaja di kasih makan oleh petugas khusus. Air sungai Chao Praya dijaga
kebersihannya hingga tidak tampak satu sampahpun. Ikan dan hewan air banyak
hidup disana dengan bebas dan sehat. Tampak banyak ikan-ikan yang loncat
menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung yang melihatnya. Menurut cerita
mahasiswa yang sudah kuliah lama disana, masyarakat Thailand melepas ikan telah
menjadi budaya tahunan. Setiap tahun pada bulan tertentu masyarakat akan
melakukan prosesi lepas ikan. Semua itu merupakan tradisi penganut Budha,
katanya.
Budaya, lahir dari kenyakinan seseorang yang dijalankan
dalam kehidupannya secara terus menerus. Budaya yang dibawa oleh seseorang,
bisa berkembang. Semakin lama akan diikuti oleh orang lain, apalagi pembawa budaya
itu terus-menerus menampakan dalam dirinya dan mengajarkannya. Budaya penganut
Budha yang berkembang di Thailand tidak lepas dari upaya pihak tertentu
mengembangkan di sana. Pemerintah Thailand telah menetapkan budaya lepas ikan
setahun sekali di sungai Chao Praya kota Bangkok dan menjaga kebersihan sungainya.
Setelah kehidupan manusia menjadi moderen budaya semakin hari semakin terkikis
oleh budaya lain yang lebih kuat pengaruhnya. Namun semua itu tidak bagi budaya
lepas ikan di Thailand. Budaya lepas ikan masih dipertahankan sampai sekarang.
Bila kita hendak berkunjung untuk mengenal budaya di
Thailand, maka sebaiknya kita mengenali dulu melalui media, budaya apa saja
yang ada disana. Sehingga kita bisa lebih menikmati dan memahami. Kemudian
setelah melihat secara langsung maka kita akan menemukan kepuasan yang lebih.
Di sungai Chao Praya terdapat ikan yang sangat melimpah.
Bukan ikan sembarangan, namun jenis ikan yang punya nilai jual yang tinggi.
Biasanya jenis ikan yang ada disungai Chao Praya sering kita jumpai disajikan
di restoan. Seperti ikan patin, ikan gurami, dan masih banyak jenis lainya.
Semua itu bisa saya lihat di sungai Chao Praya. Sekali saya lempar makanan ke
sungai, ratusan ikan berebut di air. Saya menikmati melihat ikan ditepian
sungai Chao Praya itu. Sungainya bersih, tidak tampak ada sampah satupun.
Indah!
Selepas naik perahu penyeberangan saya turun di tepian
sungai dekat Candi Wat Arun. Disana saya sempat duduk sebentar untuk melihat banyak
ikan yang berseliweran di air. Ikan itu seperti tumpukkan ikan hidup di sebuah
bak, karena saking banyaknya. Saat itu seorang teman pernah hendak memasukan
tanganya di air, namun karena kawatir akan di gigit ikan-ikan yang nampak
besar-besar maka urung dimasukan. Ukuran ikan disungai itu rata-rata sebesar
bayi anak manusia. Terkadang terlihat sangat menakutkan. Warna hitam gerakkan
sangat gesit, terkadang melompat keatas sehingga kita bisa melihat jelas ukuranya.
Budaya lepas ikan dan lestarikan hewan air bukan berarti
di sana tidak ada menu makan ikan sama sekali. Begitu juga tidak ada larangan
makan ikan atau hewan air. Menu ikan masih tetap ada. Di pasar kaget juga saya
temukan masakan ikan bakar telah dikasih bumbu. Dikota Bangkok, yang
masyarakatnya cenderung plural dari berbagai negara dan agama, akan banyak kita
jumpai menu masakan ikan. Sebagai contoh masakan berbahan ikan disana ada menu
masakan yang namanya Tod Man Pla, adalah masakan Thailand yang berbahan ikan,
mirip ikan goreng bumbu. Selanjutnya menu masakan yang disebut Khao Tom, adalah
menu masakan yang berupa bubur nasi yang di campur dengan ikan laut. Bila bubur
nasi yang dicampur dengan udang namanya Khao Tom Goong. Masakan mirip nasi
goreng seperti nasi goreng di Indonesia, namun banyak campuranya, seperti
dicampur ikan, udang dan kepiting namanya Khao Pad, dan masih banyak lagi
masakan yang dicampur dengan hewan air di Thailand. Silahkan dipilih ya!
Komentar
Posting Komentar