Si Jalak Bertasbih
Alhamdulillahi ladzi ahyanaa ba’dama ammaatana wailaihin nusyuur. Aamiin. Pagiku selalu indah, pagiku selalu ceria, selalu ada peluang dan harapan. Awal membuka mata di pagi hari, di kamar kos kota Surabaya, yang saya dengar pertamakali adalah suara adzan. Suara adzan bersahut-sahutan disana-sini. Menandakan waktu subuh telah tiba. Suara adzanlah yang sering membangunkanku setiap pagi. Panggilan adzan mendorongku untuk segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid. Panggilan adzan yang memberiku harapan untuk meraih kemenangan dan kebahagian hakiki.
Berbeda bangun pagi di Thailand, pagi itu ada
yang lain dari biasanya. Saya terbangun di pagi hari. Masih rebahan sambil
menunggu datang suara adzan, tapi tak kunjung terdengar. Setelah menunggu beberapa
waktu, bukan suara adzan yang terdengar, tetapi suara burung. Awal Cuma satu
dibalik jendela, kemudian mulai banyak saling bersahutan disana-sini. Saya
segera bangkit dan mengambil air wudhu kemudian shalat subuh, setelah menyadari
bahwa saya sudah di Thailand. Saya tidak lagi di kos Surabaya.
Usai shalat subuh, pikiran larut menyimak suara burung. Suara
kicau burung itu sangat merdu, dan saya menikmatinya, menambah rasa damai. Sayang!
tidak ada suara adzan, tidak ada suara iqamah, yang ada hanyalah suara burung,
saling bersahutan. Entah burung apa itu. Terkadang terdengar dekat,
terkadang terdengar jauh. Ada pula yang sangat dekat sekali, seakan tepat
didepan jendela kamar. Suara burung itu telah menggantikan suara adzan pagi saya di thailand. Saya mulai penasaran dengan suara
merdu burung itu. Suara merdu itu mendorong saya untuk
melihat keluar jendela, mencari sumber suara. Suara itupun terus terdengar
bergantian. Namun tidak saya temukan
titik sumber suaranya.“Merdu
sekali suaranya”, komentar saya. Saya
terheran-heran dan takjub dengan suara burung itu. Maklum suara itu belum
pernah saya dengar sebelumnya. Sehingga
saya
begitu menikamatinya. Subhanallah merdu sekali.
Sembari terus mengamati bagian per bagian rerimbunan daun
pohon di depan jendela. Saya mencoba menerka-nerka burung apa yang berkicau
ini? Mungkinkah ini suara burung jalak, yang biasa di pelihara orang? Terka
saya dalam hati, Konon salah satu teman sempat
melihat bertengger seekor
burung besar di dahan tak jauh dari jendela kamar. Tapi burung
apa, tidak ketemu jawabannya. Saya tidak banyak mengetahui jenis dan suara burung. Mungkin burung itu, burung Jalak.
Kicau burung itu berirama, suara yang awal beda dengan
suara berikutnya. Saya semakin menyimak hati-hati, “suara burung jalak itu mirif kalimat toyibah”, kata batinku. Ya, suara burung itu seperti ber-tasbih kepada Allah, kesimpulanku.
Maha suci Allah yang telah menciptakan semua ini tanpa cacat sedikitpun. Tepat
di depan jendela agak menjauh dikit, ada ujung-ujung daun yang rimbun. Ada batang-batang pohon
yang kokoh banyak bersilangan. Semua tampak jelas jika siang hari. Begitu jendela dibuka semua batang dan daun samar-samar kelihatan. Udara segar mengalir masuk ke kamar. Udaranya segar
dan
menyegarkan pernapasan. Alhamdulillah/
Remang-remang pagi beranjak terang, seiring sinar
matahari menyapu kabut pagi. Titik sumber suara itu masih tidak saya
temukan. Yang tampak hanyalah ranting dan daun pepohonan yang masih anteng.
Burung berhenti berkicau setelah terbit sinar matahari pagi. Satu burung diam,
burung yang lain serentak diam. Semua seperti sudah ada yang mengkomando.
Keadaan menjadi hening sesaat, kemudian akan berganti suara burung kecil yang
ramai dan suara-suara aktivitas pagi penghuni Asrama.
Waktu beranjak siang
dikit pemandangan(view) diluar jendela sangat bagus. Terlihat hamparan langit kota Bangsaen berwarna biru. Pada jarak yang jauh di atas langit, sesekali melintas
serombongan burung. Mereka terbang mengarah ke arah selatan, seakan hendak
menyeberangi samudera, menuju negara-negara dibelahan bumi bagian selatan.
“Apakah burung-burung itu akan migrasi ke wilayah Nusantara?” tanya saya dalam
hati.
Sisi lain, migrasi burung pertanda musim dingin terjadi
di kutub utara, mereka terbang menuju belahan bumi bagian selatan yang bersuhu
hangat untuk mencari makan. Sedangkan negara Thailand akan segera mengalami
musim cerah. Bulan itu memasuki awal bulan Oktober. Perkuliahan akan ditempuh
selama 31 hari kedepan. Awal tinggal disana sehari rasanya sangat lama,
menjelang akhir terasa waktu begitu cepat. Pertanda senuanya berjalan dengan
baik dan menikmati. Begitu juga suara burung Jalak itu saya nikmati selama
sebulan penuh.
Saya
coba menatap jauh ke depan diujung langit. Saya pandang langit yang luas tanpa
batas. “Dimanakah posisi kepulauan Indonesia?” Tanya
saya dalam hati. Saya coba mengukur pakai angan-angan
jarak antara Surabaya-Thailand berapa? Namun hasilnya nihil. Hingga angan ini terasa lelah,
tidak menghasilkan
jarak pasti antar dua lokasi ini. Lambat
laun mulai menyadari, bahwa angan-angan bukan alat ukur. Angan-angan hanyalah
dunia abstrak dalam pikiran kita semata. Sementara jarak dua lokasi adalah
masalah yang eksak. Mengukur dengan angan-angan hanyalah dugaan yang serat
dengan perkiraan yang tidak eksak, ending-nya
saya menyerah. Mungkin saja, saya salah berfikir. Seharusnya, cukuplah diterima begitu saja, apa yang tampak di langit. Dilangit hanyalah hamparan ruang yang luas. Jaraknya tidak bisa diukur hanya dengan angan-angan, kecuali dengan alat ukur yang
canggih. Ini tantangan menghadirkan alat ukur masa depan bagi saintis.
Pandanglah ke langit dan pandanglah berulang-ulang. Selain akan mendapati luasnya langit, birunya awan, dan rombongan burung besas-saf terbang dilangit, kita akan mendapati realita alam yang menakjubkan. Semua ada dalam keteraturan yang sempurna. Anda akan menemukan kesimpulan jika anda termasuk orang-orang yang berfikir. Tidak mungkin semua ini terjadi begitu saja. Tidak mungkin semua ini tanpa ada yang membuat. Dia pasti maha sempurna, lebih dari segalanya. Dia tidak sama dengan apa yang diciptakannya. Dia tidak berawal dan tidak pernah berakhir seperti makluk yang ada. Siapakah Dia? Dialah Tuhan semesta alam.
Si Jalak bertazbih, awan yang terang, dan langit yang
tiada tepi telah menghantarkan manusia pada pemikiran yang rasional. Bahwa
ketiganya (Jalak/awan/langit) hanyalah fakta yang terindera oleh mata,
ketiganya adalah riil didepan mata, tanpa samar sedikitpun keberadaanya. Siapa
saja yang menginderanya, pastilah dia akan mendapati keberadaannya nyata. Akan
tetapi ketiganya itu hanya akan menjadi fakta ketika tidak kita kaitkan dengan
akal kita dengan apa yang telah dikabarkan oleh baginda nabi kita yaitu Muhammad
saw. Nabi kita telah mengkabarkan kepada kita melalui wahyudi yang dia terima,
bahwa dibalik adanya manusia, alam dan kehidupan ini ada sang maha kuasa.
Dialah Allah swt.


Komentar
Posting Komentar