Ramahnya Jamaah Islamic Centre

Kebetulan saya melewati hari besar Idhul Adha 1439 H masih di Thailand. Perkuliahan baru separuh jalan. Saya lupa hari yang ke berapa. Ada informasi dari teman-teman yang sudah lama tinggal di sana, bahwa untuk bisa shalat idhul adha harus keluar kota. Biasanya pelaksanaan shalat Idhul Adha bertempat di Gedung Islamic Centre. Jaraknya sekitas 30 km dari kampus. Syukur Alhamdulillah, seorang pengusaha muslim asli sana, namanya Haji Usman, memahami kesulitan kami. Beliau menawarkan dan menyediakan kendaraan gratis untuk pergi ke Islamic Centre plus sopirnya. Kamipun segera menyambut tawaran itu dengan senang dan gembira. Kemudian kami janjian. Pada hari H yang masih pagi sekali kami sudah bersiap dengan pakaian muslim dan siap berangkat jika kendaraan tiba. Sesaat kemudian beberapa kendaraan tiba dan membawa kami berangkat. Mobil mobil itu, informasinya, semuanya milik pribadi Haji Usman. Alangkah dermawannya Haji Usman ini, dalam hati saya. Sama seperti yang di rasakan oleh teman-teman. Kami tidak henti hentinya mengucapkan, secara bergantian, “semoga rezeki Haji Usman semakin melimpah”,.

Naik kendaraan butuh waktu 45 menit untuk sampai lokasi. Sengaja berangkat pagi-pagi untuk mengantisipasi kemacetan di jalan. Kira-kira jam 07.00 waktu setempat, sudah sampai di lokasi. Gedung Islamic centre terlihat sederhana, tidak seperti gedung-gedung Islamic center di Indonesia. Luas ruang utama gedung hanya seperti Aula sekolah. Besarnya kurang lebih berukuran tiga kali kelas belajar sekolah dan bertingkat dua. Jamaah perempuan dibagian atas sedangkan jamaah laki-laki di lantai dasar. Sebelah kiri gedung ada halaman agak luas sebagai tempat parkir dan ada beberapa bangunan untuk sekretariat. Sebagian halaman yang lain di penuhi pedagang kuliner aneka masakan khas lokal. Ada juga yang berjualan parfum halal, baju takwa, tasbih kopyah dan aneka keperluan muslim. Saya memperhatikan lingkungan gedung, sepertinya hanya di hari raya saja ada pedagang kuliner seperti itu. Terlihat tenda-tenda yang masih baru yang cukup banyak. Nampaknya sudah menjadi kebiasaan disana setiap kali ada umat Islam kegiatan di gedung Islamic centre selalu ada pedagang pasang tenda. Masyarakat kelihatan cukup menikmati suasananya. Cuma saya tidak melihat ada persiapan akan ada penyembelihan hewan qurban saat itu. Mungkin ditempat lain yang saya tidak tahu. Pastinya hari Idhul Adha waktunya kaum muslim berkurban melakukan penyembelihan hewan qurban.

Usai shalat dan mendengarkan ceramah Ied, jamaah diarahkan oleh panitia untuk menuju teras disamping kanan gedung. Sebagian jamaah mengikuti arahan panitia, sebagian lainya langsung keluar. Luas teras itu seluas setengah dari luas lantai dasar bagian dalam gedung. Disana sudah tersedia nampan-nampan makanan ukuranya yang sangat besar berisi makanan nasi komplit dengan sayur dan daging sebagai lauknya. Warna bumbunya kuning bersantan. Saya tidak tahu apa nama masakannya. Kami dipersilahkan untuk mengambil dan makan satu nampan bisa untuk 4 orang. Tapi menurut hemat saya, empat orang belum mampu menghabiskan, idealnya untuk 5 orang. Semuanya gratis. Kita bisa gabung makan satu nampan dengan jamaah lain yang masih belum cukup empat orang untuk ikut makan. Mereka nunggu yang mengitari nampan makan lengkap dulu baru mulai makan. Mereka aktif mengajak kami untuk ikut gabung makan bersama di nampan mereka. Mereka melambai-lanbaikan tangan. Awalnya saya bingung karena tidak memahami apa maunya mereka. Saya sejenak memperhatikan, tiapkali seorang mengambil nampan, maka seorang tersebut akan mencari rekan siapa saja yang mau bergabung untuk makan bersama, dengan melambaikan tanganya kepada kita. Dalam keadaan masih ragu ragu, sambil mikir, dalam batin bertanya,”Apakah mereka mengajak saya makan atau apa ya? Pikir saya. Dan saya terus mencoba memperlajari keadaan” Akhirnya ada salah seorang yang memegang tangan saya untuk duduk dan mengajak makan. Mulailah saya makan sampai habis nasi di nampan itu bersama mereka. Sewaktu kami masih makan ada yang membagikan minuman teh. Rasanya seperti sudah keluarga atau kenal lama. Gitu!

Sesekali saya perhatikan raup-raup wajah mereka. Nampak mereka dari etnis yang berbeda-beda. Bahkan Negara yang berbeda. Ternyata benar, usai makan mereka menyebutkan nama dan negara asal mereka masing-masing. Saya akhirnya juga menyebutkan nama dan Indonesia. Ada yang dari Rohingya, Srilangka, Malaysia, India dan Pakistan. Kebetulan saya ikut gabung satu nampan bersama orang Burma, Srilangka, dan Malaysia. Saya sulit nangkap apa yang mereka sampaikan. Ada satu dari mereka setelah menyebut nama, mestinya menyebut negara asal, tapi orang yang satu itu menyisipkan nama kota barulah nama Negara. Sehingga saya mengira nama kota yang dia sebut adalah nama panjang dia. Apalagi nama kota yang dia sebutkan tidak pernah saya dengar sebelumnya. Setelah beberapa saat barulah saya sadari itu nama kota tempat dia tinggal, bukan nama dirinya. Jadi kendala bahasa yang menjadikan kami menjadi kurang menikmati lebih dari semestinya pertemuan dengan mereka. mereka tidak bisa bahasa Inggris, dan kita juga tidak bisa bahasa mereka. kami hanya mengandalkan mimik dan senyuman. Kikuk sekali!

Teman-teman lain juga begitu, mencari kelompok sendiri-sendiri. Tidak ada satupun yang dikenal. Kami tidak bisa berkomunikasi verbal, karena bahasa kami yang berbeda-beda. Kami hanya menandainya dengan tatapan mata dan wajah mereka. Bahwa mereka menerima kami dengan baik. Wajah-wajah mereka menunjukkan keramahan. Saat melihat mereka,  senyuman yang kami dapatkan. Kemudian menepuk-nepuk lengan dan punggung pertanda senang dan menunjukkan akrab. Perkataan mereka yang bisa kami fahami hanyalah kata,”Alhamdulillah’ Masyallah’ Ana Muhammad, Ana Zaid, tafadzol, dsb. Usai makan, tetap duduk-duduk sejenak, kemudian saya undur diri dengan cara menganggu-anggukkan kepala dan bersalaman. Kemudian dengan jari tangan menuju arah keluar untuk berpisah. Mereka pun tersenyum dan melambaikan tangannya. Sebagai tanda mempersilahkan saya berpisah. Saya keluar lokasi gedung. 

Sekali lagi, sebuah pertemuan yang sebenarnya bisa lebih bermakna jika kita bisa saling komunikasi verbal dan bertanya banyak hal tapi semuanya lewat. Satu yang menjadi catatan saya, saya mendapat sambutan baik di sana. Umat muslim dari berbagai Negara yang berbeda saling menganggab kita adalah saudara. Saudara seiman, diikat dengan keimanan yang sama, bahasa agama yang satu yaitu bahasa Arab. Disitulah saya rasakan pratek sikap asli sesama muslim satu dengan lain. tidak terbatas dengan batas Negara dan etnis. Semua saudara.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI