Mall Laemtong

Sejak perhatian saya tertuju kepada tulisan-tulisan yang ada disekitaran jalan yang saya lewati, kata Laemtong adalah kata pertama kali yang bisa saya baca. Laemtong, juga kata pertama yang saya berlatih melafalkannya saat itu. Sebuah tulisan menggunakan huruf latin terpampang jelas di atas dinding bangunan pertokoan. Tulisan itu posisinya lebih tinggi dari yang lain. Kata Laemtong ada di deretan tulisan dengan huruf dan ejaan khas tahiland. Tulisan itu bisa dibaca dari jarak jauh. Sebuah tulisan yang bercahaya, dan dengan bahan yang mengkilat. Ternyata tulisan itu adalah nama sebuah Mall. Saya masih ingat betul warna tulisan itu merah kecoklatan. Anda jika berkeunjung di kota Bangsaen, akan sedikit “pusing” akibat pandangan mata anda sendiri. Kenapa? Karena tidak satupun tulisan di papan dinding toko yang anda lewati ada yang bisa anda fahami, bahkan membacapun tidak bisa. Inilah salah satu kendala besar saat saya di Thailand. Tentunya itu kendala disaat kita akan melakukan interaksi dengan pendudukan sana. Menjadi juga kendala pada saat kita akan mencari kebutuhan di toko atau di Mall. Bahkan kita tidak mengetahui, apakah bangunan yang dihadapan kita ini adalah bangunan toko atau bukan. Semuanya butuh pengamatan dan perkiraan belaka. Serba sulit, itulah saat akan beli-beli sesuatu. Itulah kesulitan awal baru datang. 

Kami melihat banyak tulisan di dinding-dinding toko, papan-papan rekalme, spanduk-spanduk di pinggir jalan dan banyak tempat, hampir tidak ada yang bisa kita baca. Tidak bisa kami lafalkan. Semua tulisan yang sempat kami lihat di banyak tempat dengan huruf khas bangsa Thailand. Semua itu membuat kepala kami sempat pusing, dan mata kami capek. Kami ingin menikmati dan mendapatkan informasi dari tempat yang kami kunjungi, tapi tidak bisa sedikitpun kami membaca tulisan yang kami jumpai. Pernah ada sebuah even Expo kesenian tingkat nasional Thailand, bertempat di salah satu gedung di kampus, tapi kami tidak bisa menikmati bacaan itu semua. Kami hanya melihat gambar yang ditampilkan saja di papan reklame yang ada.

Laemtong adalah sebuah Mall. Ukuranya tidak terlalu besar. Letaknya bersebelahan dengan kampus. Hanya beberapa puluh meter dari pintu gerbang kampus bagian depan. Laemtong adalah kata pertama yang saya pelajari. Kata ini memberikan perhatian sendiri awal tinggal disana. Laemtong tempat langganan kami berbelanja pakaian. Mall satu satunya Mall terdekat dari asrama adalah Laemtong. Disana tersedia cukup komplit kebutuhan anak kos. Disana akan kita temukan Mie instan produk Indonesia, yaitu Indomie. Harga Indomie jauh lebih mahal jika dibanding harganya di Indonesia. Saat itu harga Indomie seribu dua ratus per bungkus, namun disana harganya lima ribu perbungkus, dengan ukuran sama. Bedanya Indomie dan sana dengan Indomie di Indonesia terletak pada beberapa tulisan. Indomie di sana ada sedikit tulisan huruf Thailand, entah apa artinya. Warna dan tulisan yang lain masih sama. Dan tertulis Made in Indonesia dan label halal.

Ditemukannya Indomie di Laemtong sedikit mengagetkan teman-teman, mengingat barang itu produk Indonesia, kok ada di Thailand? Apalagi kami sebagai anak kos sudah biasa makan Indomie sehingga sangat familar dengannya. Beberapa teman langsung membeli Indomie versi Thailand  dibawah ke Asrama untuk dibandingkan dengan Indomie asli yang kami bawa dari Indonesia. Kami membawa Indomie sewaktu berangkat ke Thailand. Bahkan  perbekalan terbanyak kami adalah Mie Instan yang kami beli di Surabaya. Saya lupa mengapa dulu bawa Mie banyak-banyak. Bagi saya waktu itu hanya ikut-ikutan teman saja. Begitu teman membeli Mie instan, sayapun ikut membelinya dan saya kemas di koper untuk bekal ke Thailand. Mie itulah yang menjadi makanan pokok awal tinggal disana, walaupun sebenarnya dilarang menyalakan api dalam asrama untuk memasak sendiri atau menyalakan untuk merokok. Tetapi beberapa teman ada yang melanggarnya sehingga yang lain ikut-ikutan numpang masak Mie. Disamping itu pengawasan ketua asrama kurang maksimal. Keadaan ini bukan karakter dominan kami selama disana. kami mahasiswa baik dan mengedepankan aklak. Itu loh.

Mall Laemtong menjadi alternatif tersendiri bagi kami untuk keluar asrama sekedar jalan-jalan sore. Disana kami hanya melihat-lihat kemudian pulang tanpa bawa apa-apa. Terkadang hanya ingin tahu produk Hanhone keluaran terbaru, atau pakaian keluaran model terkini. Ada sedikit alasan jika salah satu dari kami ada yang pingin belanja persedian mie instan, satu yang akan belanja tapi yang mengantar satu rombongan. Di dalam Laemtong banyak gerai-gerai pakaian, Handphone, Jam tangan, alat olahraga, kebutuhan wajah wanita, loket penukaran mata uang dan masih banyak yang lain. Hal seperti itu sudah biasa kami lakukan kala sore hari. Karena selesai kuliah rasanya juga penat ingin rileks. Jadilah kami seprti bodyguarde mengawal satu orang jalan kesana kemari.

Tidak jauh dari halaman Mall terdapat banyak penjual kuliner lokal yang menjajakan dagangannya dipinggir-pinggir jalan. Jenis dagangannya cukup variatif. Makanan khas Tomyum juga ada disana, rebusan kacang yang masih fresh dan hangat tersedia disana, kemudian tidak kalah enaknya, irisan aneka buah-buahan tersedia, semuanya masih original dan terbaik. Selesai jalan-jalan di dalam Mall begitu hendak makan atau nyemil kami keluar dan nongkrong di luar Mall. Itulah Mall Laemthong urgensinya bagi kami.

Ngomong-ngomong soal Mall menurut para pengamat sosial ekonomi punya pandangan lain. Mall bisa dianggap pertanda suatu wilayah telah ramai dengan penduduk dan bisa jadi jika Mall nya besar akan menjadi tanda sebuah kota telah maju perekonomiannya. Banyak Mall disuatu tempat berarti banyak pajak yang masuk dalam pendapatan daerah. Mall Laemtong bukan Mall yang besar namun ramai karena lokasinya berdekatan dengan kampus. Pengunjung yang dominan adalah warga kampus. Berbeda dengan para pengamat ekonomi, masyarakat umum memandang Mall sebagai bentuk penjajahan oleh pemodal besar dalam menyedot uang rakyat dan menguasai ladang ekonomi penduduk yang ekonominya lemah. Terbukti para pedagang kecil kalah bersaing dengan Mall dalam hal harga, untuk produk yang sama antara di Mall dan di toko kecil selisihnya beberapa bath (duit). Belum lagi pelayanan di Mall lebih baik karena fasilitasnya yang lengkap. Ruangan Mall ber-AC sehingga sejuk dan nyaman saat pengunjung masuk, berbeda dengan toko kecil pengunjung bakal kepanasan ketika agak lama di dalam toko. Ini mungkin yang menjadikan Mall lebih menarik daripada toko biasa.

Bagi kami Mall punya cara pandang sendiri, tidak sama dengan pengamat ekonomi atau dengan masyarakat umum, kami sebagai mahasiswa memandang bukan apa-apa kecuali tempat jalan-jalan melepas jenuh seharian kuliah di ruang kampus. Mall sebagai tempat nongkrong, dan melepas capek, jika mo cari makan keluar dari Mall, hehehe, menuju pelataran Mall mencari pedagang tradisional dengan menu lokal, hmmm enaaak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI