Mushola Kecil
Jadwal kuliah sampai sore. Mulai hari senin sampai hari jumat. Ada waktu
istirahat jam 09.00 dan jam 12.00 siang. Sedangkan jadwal sore ada istirahat
bertepatan waktu shalat ashar, jam 16.00 sore. Setiap datang waktu sholat,
perkuliahan break. Istirahat untuk
makan atau shalat bagi yang muslim. Saya dan beserta yang lain mulai bergerak
menuju mushala, untuk shalat berjamaah. Mushala terletak di lantai 5 gedung
perpustakaan. Jaraknya kurang lebih 50 meter dari gedung tempat kami kuliah.
Kami harus berjalan menaiki tangga yang cukup tinggi dan berkelok untuk sampai
tujuan. Tiap tingkat berkelok dua kali. Setelah sampai pada tingkat lima harus
melintas ruang kantor administrasi perpustaakaan, sebagai jalan darurat. Untuk
menembus kantor administrasi kita akan melintasi tiga meja karyawan. Setelah
menembus ruang kantor kita akan berada diteras teras luar bagian belakang.
Tinggal beberapa langkah kita akan ketemu dengan pintu luar Mushala. Untuk
menandai pintu mushala, agar tidak salah masuk, pintu itu bersebelahan dengan pintu
Lift yang sudah sudah tidak lagi aktif. Di mushala mungil itu kami melaksanakan
shalat setiap hari disela jam kuliah.
Ruang mushala satu pintu dengan ruang dapur dan tempat
istirahat cleaning service. Ruang untuk Mushala berbagi
dengan ruang istirahat para cleaning
service, disekat dengan papan geser dan tirai, agar yang sedang shalat
tidak kelihatan dari tempat lainnya. Jadi, keadaan mushala sangat sederhana.
Ukuranyapun Cuma 2 x 3 meter. Tidak ada ruang antri kecuali di luar berada
diteras.
Kami shalat secara bergantian, karena satukali berjamaah
hanya cukup berempat saja. Meski begitu kami sudah sangat senang, dan tidak
menyangka ada tempat shalat disana. Mengingat mayoritas penghuni kampus penganut
Budha. Kran air wudhu ada disamping bagian luar ruang, cukup membantu walaupun
harus bergantian. Sedikit lama tidak mengapa, tetap tidak mengurangi rasa
syukur kami. Semua prosesi shalat kami kerjakan dengan senang dan menikmati. Terkadang
lama sholat untuk semua teman muslim sampai habis memakan waktu lebih dari 40
menit. Usai shalat tidak langsung kembali ke ruang kuliah, harus menunggu teman
yang belum selesai shalat. Jadi jamaah giliran pertama harus menunggu jamaah giliran
berikutnya selesai shalat, agar bisa kembali turun dan kembali ke ruang kuliah
barenr-bareng. Rutinitas shalat seperti itu kami lakukan selama kuliah disana.
Alhamdulillah.
Selama masa menunggu yang lain selesai shalat, kami hanya
bisa duduk-duduk ditangga gedung atau berdiri menikmati pemandangan lingkungan
kampus, dari gedung tingkat 5 itu. View lokasi kampus tampak sangat bagus.
Pandangan terbuka luas. Terlihat taman-taman yang rapi, bunga-bunga yang lagi
mekar terliahat warna-warni di halaman gedung-gedung yang lain. Tampak juga lalu-lintas
dijalan-jalan kampus. Menikmati semua itu kami selalu lakukan setiapkali usai
shalat di mushala dan tidak ada rasa jenuhnya. Masyallah!
Berdasarkan kajian tentang jiwa manusia, rutinitas yang
padat selama mengikuti kuliah mengkondisikan manusia merasa capek. Apalagi jika
kita banyak berharap terhadap sesuatu tapi kenyataan yang dihadapi tidak
sebagaimana apa yang diharapkan. Disinilah manusia akan merasa bahwa dirinya
lemah dan membutuhkan pihak lain yang dapat membantunya, dapat mewujudkan
harapan-harapanya. Dia mencoba meminta bantuan kepada teman-temannya tetapi
temannya tidak dapat memenuhi semua harapannya. Dia terus berangan-angan mencari
pihak lain yang betul-betul bisa membantu dan sebagai tempat bergantung. Namun
semuanya tidak ada yang mampu. Sampailah manusia pada sebuah kesimpulan, bahwa
manusia adalah makluk lemah. Butuh sesuatu yang kuat yang bisa memenuhi semua
harapan dan keinginannya. Sesuatu itu bukan manusia, bukan benda lain dan bukan
dari unsur alam. Sesuatu itu harus yang serba memiliki semuanya. Dia adalah
yang maha segalanya. Siapakah dia? Dia adalah Tuhan yang maha pencipta. Yang
telah menciptakan makluknya dengan segala potensi yang ada dalam diri makluk.
Dia adalah Allah swt. Zat yang maha agung yang memiliki segalanya. Subhanallah!
Kajian terhadap jiwa mansuia mendapatkan, bahwa manusia
mempunyai naluri, yaitu naluri mencari Tuhan-nya. Naluri pengakuan bahwa
dirinya lemah dan butuh kepada sesuatu yang serba maha, yang bisa memberikan
semuanya. Dia maha suci, maha agung, maha segal-galanya. Dia tidak butuh
terhadap yang lain, tidak beranak dan diperanakan, tidak bergantung kepada
sesuatu yang lain. Dia tidak berawal dan tidak berakhir. Dia tidak sama dengan
makluknya sedikitpun. Keberadaanya adalah wajib tidak boleh tidak ada. Inilah pengakuan
dan pensucian manusia kepada Allah tuhan semesta alam, yang telah menciptakan
semuanya di alam semesta ini. Semua pengagungan manusia harus di arahkan
kepadanya. Dan puncak pengakuan dan pengagungan manusia kepadaNya adalah
beribadah kepadaNya.
Shalat adalah salah satu wujud seorang hamba mengagungkan
Allah. Kita harus menjaganya sepenuh jiwa dan raga. Karena pada hakekatnya
manusia hidup hanya untuk beribadah kepadaNya. Caranya dengan menepati semua
perintah dan larangannya dalam segala aktivitas manusia. Inilah fitrah mansuia.
Ayo kembali kepada fitrah manusia. Jangan sampai kesibukan kuliah melalaikanmu
untuk melakukan shalat.
Dampak setelah kita memenuhi fitrah manusia adalah kita akan
mendapatkan ketenangan, kepuasan batin dan kebahagian. Jadi wajar, jika kita
ditanya,”Kenapa begitu menikmati shalat, padahal harus berjalan naik-turun
tangga yang tinggi? Jawab kami adalah karena shalat adalah pemenuhan fitrah kami
sebagai makluk Allah swt. Dia tuhan yang memiliki semua nikmat, ketenangan,
ketentraman dan kebahagiaan. Fitrah dalam diri kita selalu mencari mencari
Tuhannya dan akan terus mencari sampai dia menemukan Tuhan yang serba maha
untuk disembah.
Semua manusia ingin kembali kepada fitrahnya. Sama seperti semua manusia ingin untuk mencari ketenangan jiwa. Setiap manusia mengahadapi ributnya dunia ini. Termasuk kita, selalu disibukkan dengan urusan kerja, kampus, dan sebagainya. Di dalam ruang kuliah kami disibukan dengan bahasa Inggris-nya pak dosen (Achang) yang kurang kami fahami. Semuanya menjadikan jiwa kita gemuruh dan gampang gelisah. Namun usai shalat, semua itu hilang dan ada perasaan tenang, wajah kembali terlihat segar dan saraf-saraf tampak kembali regang. Ada kepuasan batin, ada ketengan jiwa. Sangat terasa terasa sekali, bahwa jiwa menuntut dekat dengan Tuhan, dan setelah dipenuhi terasa ada kepuasan. Kata seorang ustadz, itulah yang dimaksud dengan naluri mencari Tuhannya, naluri tadayun, yaitu sebuah naluri pada diri manusia yang selalu menuntut untuk mencari Tuhan nya. Setiap jiwa akan cenderung mencari Tuhan. Karena menyadari dirinya begitu lemah. Dirinya begitu tidak berdaya, setelah menghadapi realitas yang seakan tidak ada habisnya untuk diselesaikan.
Shalat adalah pemenuhan tuntutan jiwa yang benar. Tanpa pemenuhan yang benar, jiwa manusia akan selalu gelisah sepanjang hayatnya. Dia akan menjalani hidup dengan kesulitan dan kepedihan jiwa. Tidak jarang seseorang yang seperti itu akan berakhir tragis hidupnya. Mereka mencari tuhan tanpa menggunakan akalnya. Mereka mencari sesembahan tanpa berfikir, mereka hanya menyandarkan pada perasaan saja. Padahal perasaan hanya menghasilkan dugaan yang tidak pernah pasti. Shalat adalah salah satu cara mensucikan Tuhan yang benar, setelah mengimani kekuasaan Allah swt. Ayo shalat, ayo pergi ke mushala.
Komentar
Posting Komentar