Pasar Kaget
Budaya masyakat
di Thailand tidak beda jauh dengan masyarakat di Indonesia, dan umumnya
negara-negara Asia. Jika anda tinggal disana maka akan anda temukan pasar
kaget, sebagaimana pasar kaget di Indonesia. Disana akan ketemu beberapa tempat
yang terdapat pasar kaget. Pada hari-hari tertentu terdapat lokasi yang menjadi
tempat berkumpul para pedagang berjualan. Terkadang sebulan sekali, terkadang
seminggu sekali dengan jadwal tertentu. Konon menurut cerita teman-teman, pasar
kaget seperti itu ada di seluruh negara Asia Tenggara. Ada di Indonesia,
Malaysia, Vietnam dan ada juga di Brunei Darussalam. Saya menyimpulkan pasar
kaget sudah merupakan tradisi sejak lama di Asia. Mungkin karena kita satu
nenek moyang yang sama.
Selama kuliah di
Burapha, saya sempat jalan-jalan di pasar kaget, saya menyaksikan pasar kaget
yang terdapat disekitaran lingkungan kampus Burapha. Saya tidak sengaja sampai
di pasar kaget. Ceritanya pas lagi jalan-jalan pagi menyusuri trotoar kami
melihat dari kejauhan tampak ada kerumunan orang banyak, setelah mendekat
ternyata kumpulan para pedagang disalah satu halaman luas pinggir jalan. Kamipun berhenti sejenak untuk melihat-lihat
dan mengenali barang yang dijual. Nampaknya semua keperluan kita ada disana. Kami
kebetulan tidak membawa uang cukup untuk membeli barang di sana, akhirnya kami
pulang tanpa beli satupun barang. Dua hari kemudian baru ada kesempatan kami
sengaja mendatangi tempat itu lagi dan mendapati tempat itu kosong, yang ada hanya
halaman luas yang tidak ada satupun penjual. Setelah bertanya-tanya kepada
seorang teman yang sudah lama tinggal disana, ternyata pasar tersebut adalah
pasar kaget yang buka hanya seminggu sekali setiap hari rabu pagi dan sore.
Pasar kaget adalah sebuah pasar tradisional yang buka pada hari-hari
tertentu saja. Buka pada pagi atau sore hari. Pasar ini menyediakan kebutuhan
dapur seperti
sayur matang, kuliner, aneka mainan anak, pakaian murah dan apa
saja. Tidak mengira ada juga yang menjual pakaian bekas.
Tiap-tiap pakaian ditempel kertas besar bertuliskan harganya sehingga kita bisa
lihat dari jauh. Biarpun masing-masing pakaian sudah tertulis harga, namun
masih boleh ditawar juga. Pasar
kaget yang sering saya kunjungi yaitu pasar kaget Rabu
sore karena sore hari sering ada waktu luang. Tidak jauh dari kampus. Hanya beberapa ratus meter
dari kampus. Lokasi pasar di sebuah plataran semen yang luas milik warga dan di
pinggir-pinggir jalan. Biarpun kondisinya ramai tapi tetap terjaga
kebersihannya. Sangat cocok bagi mahasiswa yang tidak bisa masak. Kita bisa
membeli sayur jadi dan lauk-pauk sekalian. Soal harga cukup murah dibanding
dengan pasar Car Free Day tepian pantai Bangsaen.
Dalam pasar kaget Rabu-Sore banyak terdapat penjual buah. Bila ingin mencari buah segar sangat
mudah menemukannya. Penjual buah bisa kita temukan
dimana saja di Thailand. Petani
menjual buah di pasar kaget dalam keadaan masih baru di petik. Kita tinggal
pilih buah apa saja. Buah yang biasa kita temui di Indoneisa ada di sana juga. Ada
buah jambu Bangkok, ada melon, semangka, apel, dan masih banyak jenis yang lain.
Bila
suatu saat pergi ke Thailand, cobalah membeli buah jambu Bangkok sudah dikupas dan di potomg-potong kecil
dalam bungkus plastic dan disisipi sumpit. Harganya sekitar 20 bath. Atau
sekitar 8000 rupiah. Ada juga
masih utuh satu biji penuh, agak lebih murah lagi dibanding yang sudah
kupasan. Anda pasti kaget merasakan buah di
sana, anda kira buah Jambu, bisa jadi rasanya saat di makan rasa apel. Entak
kenapa seperti itu rasa jambunya. Kata seorang teman, buah disana merupaka buah
hasil rekayasa genetik.
Sepintas pengunjung
di pasar kaget sama dengan
di pasar kita. Karena letaknya ditengah kampung, kita akan bisa menyaksikan budaya dan tradisi penduduk
asli. Cara mereka menawar, berbicara, berpakaian dan berdandan.
Bagi yang perempuan,
baik tua atau muda tidak bisa dibedakan dari sisi pakaian. Tidak seperti di
lingkungan kita, rata-rata orangtua mengenakan kebaya atau pakaian warna tua
bagi orang tua, namun disana antara tua dan muda pakaian bisa dibilang sama,
dari sisi model dan warna, tidak ada ke khasan tersendiri bagi kalangan
orangtua atau muda. Juga
pakaian bagi yang laki-laki. Kebetulan kota yang saya tinggal merupakan kota
penganut Budha. Jadi sangat jarang menemukan orang muslim atau muslimah. Gaya
berpakaian mereka tidak sama dengan gaya umumnya masyarakat Indonesia.
Lingkungan yang mayoritas muslim, akan banyak kita temui perempuan mengenakan
kerudung. Disana pakaian wanita
remaja yang trend
mengenakan
pakaian serba minim. Adapun
pakaian remaja laki-laki
pakai kaos oblong dan celana panjang. Gaya komunikasi mereka seperti berbisik-bisik. Tidak
banyak suara dengan volume tinggi seperti di pasar kita. Hampir tidak saya
temui pakaian “kebaya” bagi orang tua. Mereka berpakaian seperti pakai biasa.
Mengenakan kemeja dan celana atau Rok bagi yang perempuan. Begitulah sekilas masyarakat
di pasar kaget.
Beberapakali saya jalan-jalan di pasar kaget, sehingga saya dapat menggambarkan keadaan tentang pasar kaget antara lain; pasar kaget termasuk pasar tradisional, harga umumnya masih bisa ditawar, sebagian besar produk yang ditawarkan adalah produk lokal, kemudian antara penjual dan pembeli bertransaksi secara langsung dan didalamnya ada tawar menawar harga. Keunggulan pasar kaget bagi konsumen adalah konsumen akan mendapatkan barang yang masih fresh, masih segar dari kebun jika yang di beli sayur-mayur, bisa menawar dan memilih barang sesuai pilihannya sendiri, sehingga wajar pembeli merasa puas dengan hasilnya. Pembeli merasa lebih leluasa dengan kebebasan memilih milih produk sendiri.
Pasar kaget menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat lokal. Selain hiburan keramaian juga “hiburan ekonomi”. Masyarakat akan mendapatkan ladang penghasilan tambahan dengan menjual hasil kerajinan atau hasil kebun tanpa harus membayar mahal lapak yang ditempatinya. Tempat penjual posisinya diserahkan kepada pedagang dan bisa bergantiganti. Minggu ini berdagang bisa jadi minggu depan tidak berdagang tidak masalah, karena lagi tidak punya produk, sehingga pedagang tidak mengeluarkan sewa tempat. Berbeda dengan pasar tradisional pemerintah, lapak jualan permanen, umumnya sewanya mahal sehingga yang mampu hanya masyarakat bermodal saja. Kemudian secara rutin ditarik restribusi harian, harga barang harus dijual dengan memperhitungkan pajaknya sekalian, sehingga harga agak mahal.
Komentar
Posting Komentar