Rasanya Mak Nyuss

Usai shalat, saya langsung menuju penjual kuliner di halaman gedung. Sajian yang sempat saya lirik sejak awal datang di islamic centre. Melihat-lihat beberapa menu di lapak pedagang,  bayangan saya langsung ingat acara yang pernah populer di TV. Acara itu dikenal dengan Kuliner Mak Nyus Pak Bondan. Acara yang dipandu oleh pak Bondan ini sempat populer antara tahun 2002-2012. Pak Bondan selalu mengatakan “Mak Nyus” serta mengacungkan jempolnya tiapkali selesai mencicipi kuliner. Saking seringnya saya nonton acara itu, sayapun spontan berlaku demikian,”Mak Nyus rek” setelah mencicipi kuliner. Aksi saya seperti ini membuat penjualnya tersenyum dan manganggukkan kepala. Padahal perut sudah kenyang. Masakan kulinernya rasanya enak dan khas.

 Kue yang saya cicipi semuanya kue rebus atau kukus berbahan tepung dan sebagian harus menggunakan santan untuk memakannya. Ada juga yang ditaburi parutan kelapa dan rasanya manis-manis, entah apa namanya. Waktu itu untuk memilih kue nya asal tunjuk saja, kemudian cara membayarnya menunjukkan lembaran uang Bath ke penjual. Penjual  kemudian yang akan mengambil sendiri harga seperlunya. Ada yang harganya 50 bath ada yang hanya 30 Bath. Syukur Ibu penjual kue jujur. Mereka semuanya muslim. Walaupun disodorkan uang lebih, mereka mengambil seperlunya. Mungkin menyadari pembelinya tidak bisa komunikasi menggunakan bahasa mereka dan mereka mengenali kami bukan orang asli Thailand.  

Memperhatikan para pedagang yang ada disana saya mulai mengenali tradisi asli orang kampung daerah Thailand. Karakter muslim Thailand kurang lebih dengan muslim Indonesia. Santun dalam berbicara dengan orang lain. Biasanya mereka akan mendahuli dengan kata “khun” untuk bisara kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Arti kata khun adalah anda. Sedangkan busana mereka memiliki corak cenderung satu warna dan mengkilat. Jika pakai atas warna hijau, bagian bawah kuning, seperti itu misalnya. Demikian saya lihat pada penjual kuliner disana. Menurut hemat saya, pakaian seperti itu pakaian keseharian masyarakat disana. Sekilas kita tidak bisa membedakan, apakah mereka orang thailand atau teman-teman dari Indonesia kecuali setelah berbicara. Ucapan salam mereka untuk menyambut atau mengawali pembicaraan dengan orang lain yang baru datang,”sawaddee khrap’. Salam untuk ke orang laki-laki. Sedangkan Sawaddi Kha diperuntukan kepada perempuan. Entah kurang tahu apa artinya.

Jajanan yang dijual di halaman gedung hanya kue tradisonal masyarakat setempat. Berbeda dengan makanan-makanan umumnya negara thailand. Banyak sekali masakan Thailand, hampir tiap daerah memiliki menu masakan berbeda. Tapi secara umum mayoritas rasa masakan disana pedas dan asam. Adapun masakan yang paling terkenal hingga mancanegara adalah Tom Yum. Tom Yum sendiri memiliki beberapa jenis. Ada yang namanya Tom Yum Kung, Tom Yum Goong, Tom Yum With Suki. Dari beberapa jenis Tom Yum bumbu dasarnya adalah bawang merah, garam, bawang putih, cabe,  seledri, lengkuas, dan serei. Adapun bahan utamanya adalah udang dan Mie, dan berkuah. Menurut saya masakan ini seperti Mie Bakso, tapi dengan campuran yang berbeda. Pertama saya merasakannya kurang cocok aromanya. Aroma Tom Yum sangat ekstrim, seperti aroma serangga walang sangit di sawah. Entah apa campuran yang menimbulkan aroma itu. Mungkin itu aroma yang kesukaan orang sana. Tapi lama-lama kita akan terbiasa dengan masakan disana. 

Catatan lain dari kegiatan di Islamic centre adalah, kami merasakan seperti telah kembali ke Surabaya lagi. Surabaya yang sudah saya kenal selama saya disana memberikan lingkungan yang bagus. Lima kali sehari suara kumandang adzan ramai disana-sini. Kami menemui penduduk dengan baju baju takwa dan berkopyah, sedangkan perempuanya berkerudung banyak dijumpai disana sini. Sementara di kampus Bangsaen dengan mayoritas penduduk penganut Budha. Ditengah hiruk pikuk ramainya mahasiswa di kampus, atau di masyarakat luar kampus, hampir tidak kami temui orang berbaju takwa atau berkopyah. Adapun untuk muslimah belum tentu sehari bisa ketemu, kecuali teman-teman kami sendiri dan beberapa mahasiswa asal Thailand selatan. Kondisi itu menyelipkan rasa asing tersendiri dalam hati saya. Dalam hatipun berbisik,”ini bukan lingkungan yang tepat”. Begitulah ceritanya!?

Perasaan luluasa dan hati terasa lebih longgar setelah sampai dan pulang dari shalat Ied Adha. Hampir setengah hari berkumpul dan berinteraksi dengan komunitas muslim dengan jumlah banyak. Berbeda keadaan dengan kondisi kampus Burapha. Bisa dikatakan 98 persen penduduk kota Bangsaen penganut Budha. Sedangkan rombongan kami mayoritas muslim, mempunyai karakter dan kebiasaan yang berbeda. Kami, di Surabaya, sudah biasa mendengar adzan lima kali sehari. Apalagi  kami masih belum banyak menjelajah lingkungan kota Bangsaen. Paling hanya sebatas kampus dan Asrama mahasiswa saja. Sehingga masih ada perasaan sempit dan kurang wawasan. Disamping itu memang kami masih penyesuaiaan dengan lingkungan dan budaya masyarakat setempat. Dengan berkunjung di lingkungan Islamic Centre memberikan keadaan yang berbeda. Rasanya Mak Nyus, setelah bertemu dengan komunitas muslim. Setelah beberapa hari terasa asing dan sepi di kampus. Kami bisa memenuhi selera makanan tanpa ragu aspek kehalalannya. Hati ini juga terasa lapang saat turun dari mobil dan menginjakkan kaki di halaman Gedung. Alhamdulillah.

Adapun lapak pakaian, saya tidak begitu tertarik, disamping harus menghemat isi kantong. Saya hanya melihat sepintas selalu saja. Disamping saya kurang punya selera model-model pakaian ala Thailand, begitu kurang suka corak warnanya. Pakaian saya sudah cukup untuk tinggal di sana. Koper saat berangkat sudah penuh 20 kiligram. Jumlah maksimal yang di berikan oleh maskapai  Air Asia per penumpang. Tapi ada juga teman-teman yang berbelanja pakaian. Untuk teman perempuan biasanya membeli Bros, gelang, plasmina. Untuk plasmina bertuliskan kaligrafi arab atau tulisan huruf Thailand yang menunjukkan barang khas dari Thailand. Kadang bergambar kaligrafi Gajah, atau bergambar pantai Pataya, atau tempat-tempat terkenal lainya wilayah disana.

Berbeda, antara lingkungan Islamic centre dengan suasan kota Bangsaen tempat kami tinggal, bahkan di Bangkok, fasion yang dijajakan memiliki “aliran” yang berbeda. Jika kita jalan-jalan di Mal tengah kota maka serasa kita ada di kota paris perancis, seperti di film layar kaca. Banyak baju model Bikini, blus celana jean ketat dan sebagainaya. Adapun di lingkungan Islamic Centre, nuansanya seperti di lingkungan pesantren, tepatnya seperti kampung santri. Disana ada toko busana muslimah dan baju takwa. Begitulah!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI