Kacang Rebus
Mak Nyus, itulah
kata yang cocok untuk menggambarkan rasa Kacang Tanah rebus yang saya makan. Kacang
itu saya beli di pinggir jalan depan Mall Laemtong. Tepatnya di plataran pinggir
jalan depan Mall Laemtong sedikit kearah jembatan penyeberangan. Bagian pinggir
jalan memanjang sampai bawah jembatan penyeberangan. Rasanya enak, empur dan
alami. Aroma kacangnya masih harum, benar-benar aroma kacang kebun baru petik. Saat
dimakan masih dalam keadaan hangat sangat nikmat, Mak Nyuss. Cocok untuk nyamil
sambil santai atau pas ada acara diskusi bareng di taman kampus. Rasanya sekali
gigit, rasa jenuh langsung hilang. Harga cukup murah, hanya 20 bat dapat satu
kantong kertas segitiga besar. Orang jawa bilang satu cintung, yaitu bungkus
kertas yang dibentuk kerucut terbuka. Cintung juga merupakan satu teknik untuk
melipat kertas menjadi wadah jajanan tradisional. Dengan kecekatan tangan
penjual kacang dalam waktu singkat cintung sudah terbentuk dan siap dipakai
wadah.
Beberapa kali
saya beli kacang di sana, belum pernah mendapatkan kacang yang sudah direbus
ulang. Barangnya “ori” saat itu direbus, saat itu pula di pasarkan. Disana ada
beberapa penjual kacang, semuanya ibu-ibu. Pakaian yang dikenakan tidak umum
penjual dipasar, mereka mengenakan celemek, yaitu penutup pakaian saat di dapur
pas masak atau saat melayani pelanggan agar baju yang dikenakan tidak kotor.
Kita bisa lihat pakai pelayan pramusaji di restoran, mereka saat menyajikan
mengenakan pakaian tambahan yang di ikatkan dibagian depan badanya. Penampilan
penjual kacang seperti itu memberikan tersendiri bahwa kacang yang dijajakan
memperhatikan berkualitas hegenitas. Jadi kesan jajanan sehat, gitu!
Berbeda pada saat
beli kacang rebus di dekat Royal Plaza Surabaya, seringkali beli kacang rebus
seringkali juga mendapatkan kacangnya sudah rebusan ulang. Artinya kacangnya
sisa kemarin yang direbus ulang untuk dijual hari ini. Rasa kacangnya sudah
lain kurang enak plus ada rasa lengket-lengket kulitnya. Harganya masih tetap,
tapi kualitas barangnya menurun. Penjual seperti itu tidak memperhatikan
kualitas. Tentu hal itu membuat kecewa pelanggan. Entah apa yang ada dipikiran
penjual kacang melakukan itu, mungkin karena kebanyakkan produksinya atau lagi
sepi pembeli.
Kacang yang saya
beli di pinggiran jalan dekat Mall Laemtong kondisinya lain, jauh berbeda.
Kacangnya selalu fresh menandakan kacangnya masih baru. Kualitas kacang yang
dijual terjaga. Pelanggan menjadi senang dan tidak kecewa untuk datang kembali.
Harga kacangnya sesuai dengan kualitasnya. Besar kacangnya rata dan tidak ada
yang busuk atau cacat, kering dan bersih. Warnanya bersih menarik tidak terikut
satu batang atau daun kacang yang sering membuat kotor penampilan rebusan
kacang. Saat di pecah kulitnya akan di dapat isi yang gemuk dan bersih. Tidak
ragu siapa saja yang hendak menyantap. Mungkin penjual kacangnya menerapkan menejemen
mutu produknya. atau mengetahui cara melayani pelanggan yang datang. Sebentar
saya pernah memperhatikan dari kejauhan penjual itu, penjual kacang itu tidak
pernah berhenti melayani penjual yang datang, laris manis.
Thailand
terkenal maju dalam bidang pertanian, sehingga produk pertanian berkualitas.
Kondisi tanah dan cuaca di Thailand sama dengan kondisi tanah di Indonesia,
cuaca juga sama, tinggal keseriusan pemerintah dan petani dalam mengembangkan
potensi pertaniaanya. Jika sebuah negara sudah bisa melakukan Import, itu
artinya kualitas hasil pertaniannya diakui oleh negara lain. Pada tahun 2019
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengirimkan 20 orang kadernya ke
negara Thailand. Untuk mengikuti program pelatihan pertanian berbasis alam dan
teknologi. Program itu merupakan hasil kerjasama HKTI dengan PT Noorpay
Nusantara Perkasa yang di dukung oleh Asia Pasific Natural Agriculture Network
dan Duta Besar RI Thailand (wartaekonomi.co.id, minggu,17/2/2019). Ini
menunjukkan bidang pertanian Thailand sangat maju dan berkembang. Hal ini di
akui oleh ketua Umum KHTI, Jenderal TNI (Purn) Dr Moeldoko, beliau menyambut
baik terselenggaranya program itu. Menurutnya program itu sangat bagus dan
dapat membantu memperbaiki sektor pertanian di Tanah Air, dan Indonesia harus
sering belajar dari negara lain yang pembangunan pertaniannya maju dan
berhasil. Lebih lanjut bapak Moedoko menyatakan sangat penting melakukan
moderenisasi pertanian melalui berbagai inovasi dan pengembangan teknologi
seperti pengembangan benih, bibit, pola tanam, pupuk, pemulihan tanah, anti
hama, dan lain-lain sehingga dapat meningkatkan produktivitas hasil panen dan
produksi yang berkualitas unggul.
Berdasarkan berita artikel di media online
detikfinace Kamis,
17 Mar 2011 13:02 WIB, Indonesia ternyata masih mengimpor kacang tanah
dari Thailand. Ini membuktikan kacang produk Thailand memang mempunyai kualitas
yang layak eksport. Sehingga tidak salah saya merasakan dan memberikan predikat
rasa kacang di Thailand dengan sebutan, Mak Nyusss” menandakan rasa yang sangat
luar biasa.
Bidang pertanian
merupakan tonggak ketahanan pangan suatu negara. Jika ketahanan pangan kuat
maka negara akan makmur. Begitu looh. Saya sempat bermimpi jika saya bisa
mengembangkan produk kacang dengan kualitas seperti yang saya rasakan di sana,
tentu saya akan banyak duit dengan berdagang kacang di tanah air. Namun apa
daya, saya tidak punya basic ilmu pertanian sama sekali, kasihaan. Tapi kalu
mau belajar tentunya akan bisa. Hanya butuh keseriusan dan menyediakan waktu
untuk menekuni. Kita bisa baca-baca dalam majalah tips-tips menanam kacang yang
baik.
Kacang tanah
selain di rebus bisa juga diolah dengan cara digoreng atau di jadikan campuran bahan
makanan yang lain. Kacang tanah dicampur dengan tepung dan digoreng menjadi
peyek kacang tanah. Di kota Jogja dikenal dengan jajanan Mochi isi kacang
tanah. Bakpia berbahan dasar kacang banyak dijual di pasar, baik pasar
tradisional atau pasra modren seperti pada hipermarket. Kita juga mengenal
kacang atom, kacang yang dibungkus dengan tepung goreng warna putih, saat
digigit akan terasa kacangnya sembunyi didalam. Kacang atom banyak tersedia
ditoko-toko dan akan muncul saat lebaran tiba. Jadi kita sudah biasa makan
kacang sejak kecil. Tapi kita jarang merasakan kacang produk olahan sederhana
yang di buat dari luar negeri. Sehingga kita hanya merasakan makanan alami yang
ada disekitar kita, jarang makanan-makanan yang dimasak secara alami dari
negara lain, sehingga tidak mengetahui perbedaanya. Itulah mungkin yang saya
rasakan sewaktu makan olahan kacang rebus di plataran Mall Laemtong kota
Bangsaen Thailang, saya merasakan rasa lain yang belum pernah saya rasakan.
Semua itu betul dan nyata, hingga rasa kacang rebus itu Mak nyuss, sebuah rasa
yang tak bisa di wakili dengan kata-kata biasa, kecuali Mak Nyuss. Mantaps!
Komentar
Posting Komentar