Haji Usman

Haji Usman orang asli Thailand. Umurnya kira-kira sudah paruh baya. Nampak dari warna rambutnya banyak yang memutih. Mengenalkan diri pada kami sebagai seorang muslim dan profesinya berdagang. Pernah berdagang durian sampai ke Indonesia, ceritanya beliau. Dia seorang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya. Pada satu kesempatan haji Usman mengundang kami untuk berkunjung dirumahnya. Itu dia sampaikan dengan datang langsung ke asrama kami. Atas tawaran itu kami menyambutnya dan sepakat hari besoknya kami siap memenuhi undangannya. Setelah tiba waktu yang disepakati, haji Usman datang kepada kami dengan membawa banyak mobil untuk menjemput kami diajak ke rumahnya. Ternyata rumahnya tidak jauh dari kampus. Hanya butuh beberapa menit sudah sampai. Sebuah rumah yang berlokasi di hunian yang terhitung asri dan bersih. Setelah sampai kamipun turun dari kendaraan dan langsung dipersilahkan masuk ke rumah. Oleh karena kami jumlahnya agak banyak sekitar 40 orang, akhirnya ada yang enggan masuk dan hanya duduk di luar saja, dihalaman taman yang teduh. Ternyata di dalam rumah Haji Usman sudah menyediakan hidangan makanan siap santap. Aneka jenis makanan besar sudah disiapkan, komplit dengan tong es krim bisa ambil sendiri sepuasnya. Saya biasa menamai es tong-tong saat dikampung. Es tong-ting adalah es krim tradisional. Cara mengambil untuk disajikan dikosek pakai sendok dan di taruh kerupuk berbentuk kerucut sebagai wadahnya, baru kemudian menikmatinya. Haji usman bercakap-cajap sebentar kepada kami semua kemudian segera mempersilahkan makan sepuasnya prasmanan. Enaaak!

            Haji Usman hanya ditemani oleh seorang Ibu sebagai istrinya dan satu seorang laki-laki, katanya pekerjanya. Sambil  bersama menyantap hidangan, haji Usman bercerita banyak hal. Sampai nasi di piring kami habis. Cerita tentang Thailand, pengalamannya pernah ke Indonesia, pernah berjualan buah ke Amerika dst. Dia bercerita bahwa, setiap kali mendengar ada rombongan kunjungan mahasiswa dari Indonesia ke kampus Burapha, maka dia akan mengundang untuk makan dirumahnya. Berapapun jumlah mahasiswa. Dan itu sudah sejak lama dia lakukan. Haji Usman menerangkan, alasan dia melakukan itu karena dorongan sesama muslim harus saling memuliakan. Terutama kepada mahasiswa Indonesia akan mendapat perhatian tersendiri. Dia sangat senang dan kagum dengan orang-orang muslim Indonesia. Muslim Indonesia ramah dan shalih-shalih. Bahkan dia kepingin menikah dengan orang Indonesia jika bisa. Itu disampaikan dalam ceritanya dan dia bilang, serius, katanya. Baginya Indonesia adalah negara besar. Orang Thailand banyak mengimpikan bisa datang ke Indonesia. Tidak heran dia juga menyebut nama Presiden Soekarno adalah sebagai presiden yang hebat dan sangat punya pengaruh di negara Asean. Dan masih banyak lagi apa yang diceritakan Haji Usman tentang Indonesia.

            Setelah kira-kira dua jam di rumah Haji Usman, kami pamit pulang. Dalam kondisi kenyan, hehehe. Sebelum balik ke kampus, kami mengajak Haji Usman berfoto bareng dengan sekitar 40 orang jumlah kami. Kami berdiri di pinggir jalan depan rumahnya dan itu satu gambar dari gambar-gambar yang lain kenangan kami di rumah nya. Banyak foto kami dengan teman-teman saat masih di dalam rumah saat makan.

Saat menyantap makan, kami terbagi beberapa lingkaran makan bersama diruang-ruang dalam rumah haji Usman. Sebagian ada yang suka duduk di kursi ada yang duduk dilantai melingkar, ada yang duduk di tangga sesuai dengan kelompok masing masing, bahkan ada yang di halaman rumah, dibawah bawah pohon. hampir semua orang dari teman kami berfoto sindiri-sendiri dengan begroung ruang-ruang ruma haji Usman. Sebuah kesempatan yang patut di abadikan. Usai berfoto-foto kami berpamitan pulang dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas budi baiknya haji Usman. Kami kembali di kendaraan dan diantar sampai asrama kampus lagi. Cuma haji Usman sudah tidak ukut lagi tapi digantikan oleh sopir yang lain.

            Komunikasi kami dengan haji Usman sangat lancar tidak mengalami kendala yang berarti. Bahasa yang digunakan Haji Usman bahasa melayu. Orang Thailand menyebut bahasa Melayu cukup mengatakan “bahasa” saat mengajak bicara menggunakan bahasa melayu. Namun jika mereka hendak mengajak bicara menggunakan bahasa Thai mereka tidak menyebut bahasa. Begitu juga jika hendak memakai berbicara pakai bahasa Inggris mereka akan bilang,”kita berbicara pakai bahasa Inggris saja ya” Beda dengan saat mereka ingin mengajak bicara pakai melayu, mereka akan bilang,”kita pakai bahasa ya”. Jadi kata “melayu”nya tidak disertakan. Gitu!

            Perjumpaan dengan haji Usman memberikan pelajaran berharga bagi kami semua. Haji Usman telah memberikan contoh bagaimana sesama muslim berbuat baik kepada saudaranya. Kami merasa ini oleh-oleh terbaik selama di thailand. Bukan hanya ilmu yang kami dapat bersama dosen di kampus, namun dari sikap dan prilaku haji Usman kepada lami menjadi pelajaran terbaik. Dengan dorongan persaudaraan, seorang haji Usman melakukan kebaikan terhadap kami. Kami yang tidak dikenal sebelumnya diperlakukan dengan sangat baik. Haji Usman merasa, bahwa kami sebagai seorang muslim yang sedang berada di tempat yang jauh dari negerinya, sehingga layak di senangkan. Semua itu dapat difaham dari perkataan yang disampaikan olehnya. Dia mengatakan,”saya senang dengan kedatangan mahasiswa Indonesia, Indonesia adalah negeri muslim yang besar banyak ulama dan orang cerdik”. Kecintaannya sesama muslim dan penghormatannya kepada ulama sangat besar menjadi pijakkan menyenangkan kami. Itulah yang kami tangkap dari haji Usman

   Muslim satu dangan yang lainya adalah bersaudara tidak boleh disekat oleh nasionalisme atau suku. Sesama muslim mesti saling mencintai dan tolong menolong. Budaya dan kehidupan modern tidak boleh menghilangkan persaudaraan islam. Budaya islam adalah budaya yang indah, sesuai dengan fitroh manusia dan menentramkan jiawa. Allah zat yang menjadikan budaya islam sebagai budaya yang khas tidak ada duanya di dunia. Menepati budaya islam akan mengarakan manusia menjadi manusia sejati yang peduli sesama manusia lain. Islam tidak mengajarkan hidup individualistik yang acuh tak acuh sesama manusia yang lain. Sifat Individual dalam pergaulan tidak melahirkan kerjasasama. Cuek dan tidak mau peduli dengan keadaan orang lain. Semua itu hanya akan menyebabkan perpecahan dan kerusakan kehidupan. Haji Usman telah mengungkapkan persaudaraan bukan hanya sekedar dalam kata-kata namun dengan tindakan nyata. Semoga haji Usman dapat balasan terbaik dari Allah swt. Aamiin.    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESIMPULAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI